Selamat datang di Toko Buku Aswaja. Kami bantu Anda untuk mendapatkan buku-buku Islam berpaham Ahlussunnah wal Jama'ah. Silakan hubungi sms center kami. Kami akan melayani Anda dengan senang hati.

Kamis, 20 November 2014

ALFIYAH IBNU MALIK (JILID I)

Penulis: Tim Penulis Batartama
Penerbit: Pustaka Sidogiri
Tahun: 2011
Halaman: 268 Hal
Harga: Rp 25.000

Sinopsis:

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf . Kitab Alfiyyah Ibnu Malik adalah kitan populer dan melegenda dalam ilmu Gramatika / tata bahasa  arab. Kitab ini di kenal dibelahan dunia, baik daratan timur maupun barat. Di barat, “The Thousand Verses” nama lain dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik.
 
Alfiyyah ibnu Malik dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab.

Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik juga di kaji diberbagai daerah. Pesantren-pesantren yang tersebar diwilayah Nusantara hampir tidak ada yang menyingkirkan peranan kitab ini.
Besarnya peranan Alfiyyah Ibnu Malik tampaknya menjadi titik puncak bagi harapan si pengarang. Ibnu Malik pernah mengungkapkan melalui satu bait dalam nadzomnya; “Waqad yanubu ‘anhu ma ‘alaihi dal kajidda kullal jiddi wafrokhil jadal. Nadzom ini seolah-olah mengisyaratkan keinginan Ibnu Malik bahwa Alfiyyah yang benar-benar telah menggantikan perannya munjukkan seperti sebuah langkah penuh keseriusan dan kebahagiaan yang tiada tara.

Harapan akan manfaat kitab Alfiyyah Ibnu Malik bagi dinamika ilmu keislaman juga pernah diungkapkannya melalui salah satu bait dalam nadzomnya; “Wallahu Yaqdhi bihibatin waafiroh li walahu fi darojatil akhiroh”. Semoga dengan ampunan yang sempurna, Allah memberikan aku Dan dia (IbnuMu’thi guru imam sibawaih) sebuah draja tyang tinggi diakhirat.
Kelebihan mengkaji Ilmu Nahwu-Shorof khususnya alfiyah dibandingkan dengan ilmu fiqh dan lainnya adalah ketetapan qoidahnya. Qoidah  Nahwu-Shorof merupakan ilmu yang paten/pasti yaitu qoidahnya tidak akan pernah berubah ila akhirizzaman.sedangkan didalam ilmu fiqh akan selalu terus berkembang  mengikuti zaman, seiring muncul dan berkembangnya suatu masalah. Begitu banyak orang yang cenderung mengkaji alfiyyah, sampai-sampai Ibnu Malik sebagai pengarangnya dinobatkan sebagai Taj ‘ulama an-Nuhaat (Mahkota Ilmu Nahwu).
Posted on 09.03 / 0 komentar / Read More

FATHUL QARIB MUJIB

Penulis: Tim Penulis Batartama
Penerbit: Pustaka Sidogiri
Tahun: 2009
Halaman: 206
Harga: Rp 40.000

Sinopsis:

Imam Syafi'i berkata: Ilmu ada dua macam, ilmu agama yakni ilmu fiqh dan ilmu  dunia yakni ilmu kedokteran, selain ilmu itu yakni ilmu syi'ir dan lainnya hanya sia-sia tak berguna.

Kitab Taqrib, merupakan salah satu kitab tentang ilmu fiqh bermadzhab Syafi'i, karya monumental Syekh Abu Suja' yang berisikan faidah-faidah dan hal-hal yang penting dalam ilmu fiqh. Kitab ini berusia ratusan tahun, bahkan kono kitab ini menjadi pedoman para hakim di kerajaan Demak BIntoro, Pajang dan Mataram Islam, dalam hal memutuskan berbagai kasus yang terjadi.

Kitab Fathul Qorib, Karya Syeakh Ibnul Qosim al Ghazi, merupakan salah satu kitab yang mensyarahi/ mengomentarikitan Taqrib. Kedua kitab ini sangat populer di kalangan Pesantren, hampir seluruh pesantren di Nusantara ini menjadikan kitab tersebut sebagai salah satu mata pelajaran, yang selalu dipelajari, dikaji dan dimuthola'ah oleh para ulama dan santri.

Fiqh IDOLA adalah sebuah buku yang menerjemahkan kitab Fathul Qorib yang merupakan idola para santri pemula yang hendak mempelajari Fan Fiqh. Agar lebih sempurna dalam memahami kandungan kitab Fathul Qorib tersebut, dalam buku ini kami menyuguhkan keterangan-keterangan penting yang perlu diketahui oleh si pembaca.

Dalam buku ini selain tulisan terjemahan Fathul Qorib bahasa Indonesia dituliskan pula huruf arab dari kitab Fathul Qorib dan ditambah keterangan keterangan pelengakap yang lebih memahamkan pemahaman si pembaca.



Posted on 08.57 / 0 komentar / Read More

Kamis, 06 November 2014

PELAJARAN TAJWID

Qa'idah Bagaimana Seharusnya Membaca al Qur'an

Penulis: Abdullah Asy'ari, B.A.
Penerbit: "Apollo Lestari" Surabaya
Harga: Rp 10.000

Sinopsis:

Rasulullah Saw bersabda: "Orang yang membaca al Qur'an dengan mahir kelak mendapat tempat di dalam Surga bersama-sama dengan para rasul yang mulia dan baik-baik. Sedangkan orang yang membaca al Qur'an tetapi tidak mahir, membaca terbata-bata dan tidak lancar, maka dia akan mendapat dua pahala." Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra.

Sabda Rasulullah Saw ini menjadi benih yang dapat tumbuh subur di hati orang yang mengimaninya, lalu berkembang dan membuahkan dorongan untuk mencapai kemahiran dalam membaca al Qur'an.

Buku kecil ini berisi qa'idah-qa'idah membaca al Qur'an sebagaimana mestinya, sehingga kita bisa membaca al Qur'an dengan baik dan benar dan mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Swt.
Posted on 11.28 / 0 komentar / Read More

Kamis, 09 Oktober 2014

ILMU NAHWU

Terjemahan Matan al-Ajurumiyyah dan 'Imrithy Berikut Penjelasannya

Penulis: K.H. Moch. Anwar
Penerbit: Sinar Baru Algensindo
Harga: Rp 15.000

Sinopsis:

Untuk memahami Alquran, mempelajari ilmu Nahwu sangat penting artinya; karena menurut kaidah hukum Islam, mengerti ilmu Nahwu bagi mereka yang ingin memahami Alquran hukumnya fardhu 'ain.

Ilmu Nahwu termasuk pelajaran pertama yang dikaji di pesantren-pesantren, dan kitab yang biasa dipakai untuk pelajaran ilmu Nahwu adalah kitab Al-Ajurumiyyah. Oleh karena itu, kitab tersebut kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu para santru dalam memahami ilmu Nahwu.

Kitab terjemahan ini memuat ta'rif atau definisi yang dianggap perlu, makna setiap kalimat, contoh-contoh kalimat, skema, dan kesimpulan/maksud kalimatnya, ditambah dengan nazham (syair) 'Imrithy.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kaum Muslimin.
Posted on 12.48 / 0 komentar / Read More

ILMU SHARAF

Terjemahan Matan Kailani dan Nazham Almaqsud Berikut Penjelasannya

Penulis: K.H. Moch. Anwar
Penerbit: Sinar Baru Algensindo
Harga: Rp 13.000

Sinopsis:

Setiap orang yang mempelajari bahasa Arab disyaratkan agar mempelajari ilmu sharaf, sebab ilmu sharaf merupakan induk segala ilmu.

Ilmu sharaf adalah ilmu yang membahas tentang perubahan suku kata-suku kata dalam bahasa Arab, menyangkut penambahan, penggantian, dan perubahannya. Dengan ilmu inilah bentuk asal diubah kepada  bentuk-bentuk lain untuk mencapai arti yang dikehendaki, yang hal itu hanya bisa tercapai dengan adanya perubahan.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku Matan Kailani dan Nazham Almaqsud, dilengkapi dengan penjelasannya untuk membantu dan mempermudah para pelajar mempelajari ilmu sharaf.
Posted on 12.31 / 0 komentar / Read More

Sabtu, 20 September 2014

KATAK INGIN JADI LEMBU

Penulis: Uswatun Khasanah, S.Pi
Penerbit: Zahida Pustaka
Harga: Rp 30.000 (Disc. 20%)

Sinopsis:

Dongeng sebelum tidur meskipun sederhana ternyata mempunyai banyak manfaat untuk anak-anak. Beberapa di antara manfaatnya itu adalah:

a. Merangsang imajinasi dan kreativitas
b. Mengembangkan kecerdasan berbahasa anak
c. Mengembangkan keterampilan berpikir
d. Mengembangkan emosi
e. Menanamkan nilai moral dan etika
f. Mempererat ikatan emosional dengan orangtua
g. Relaksasi dan hiburan

Nah, buku ini mempersembahkan kepada Anda sebanyak 30 kisah dongeng hewan (fabel) pengantar tidur yang bisa Anda sampaikan kepada putra/putri Anda. Jika Anda ingin mengurai pesan moral yang ada di dalam kisah yang Anda bacakan, Anda bisa mendapatkannya pada bagian akhir setiap kisah, karena penulis telah menguraikannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Semoga kehadiran buku ini memberi manfaat kepada setiap pembaca, terutama dalam pembentukan karakter pribadi putra-putri kita.

Selamat membaca.

Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi

Kisah 1   : Dua Orang Pengembara dan Seekor Beruang
Kisah 2   : Burung Gagak dan Sebuah Kendi
Kisah 3   : Serigala dan Monyet
Kisah 4   : Lebah dan Kupu-kupu
Kisah 5   : Ikan dan Burung
Kisah 6   : Harimau dan Kerbau
Kisah 7   : Angsa dan Kura-kura
Kisah 8   : Semut dan Belalang
Kisah 9   : Semut dan Gajah
Kisah 10 : Burung Kasuari Tersandung Batu Berlian
Kisah 11 : Kiki Si Kelinci Cerdas
Kisah 12 : Anjing dan Bayangannya
Kisah 13 : Keledai Berkulit Singa
Kisah 14 : Katak yang Ingin Jadi Lembu
Kisah 15 : Lebah dan Semut
Kisah 16 : Keharuan Seekor Anjing
Kisah 17 : Kecerdikan Menumbuhkan Kebaikan
Kisah 18 : Cicak dan Nyamuk
Kisah 19 : Harimau yang Terjerumus
Kisah 20 : Tujuh Burung Gagak
Kisah 21 : Keledai dan Garam Muatannya
Kisah 22 : Dua Ekor Kambing
Kisah 23 : Monyet dan Ayam
Kisah 24 : Lomba Lari antara Siput dan Kancil
Kisah 25 : Buaya yang Lupa Diri
Kisah 26 : Mengapa Anjing Tak  Bertanduk?
Kisah 27 : Musang Melawan Ayam
Kisah 28 : Burung Balam dan Semut Merah
Kisah 29 : Tupai dan Seekor Ikan
Kisah 30 : Balas Budi Si Burung Bangau

Daftar Pustaka
Tentang Penulis 

Posted on 13.01 / 0 komentar / Read More

Selasa, 16 September 2014

BUKAN FITNAH, TAPI INILAH FAKTANYA

Menjawab Tuduhan "Dusta" Firanda, Sofyan Chalid, dan Waskita
Membongkar Tradisi Dusta Wahabi

Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: Pesantren Terjemah Indonesia
Harga: Rp 60.000.-

Sinopsis:

Kebiasaan berbohong yang dilakukan Ulama Wahabi nampaknya sudah mengakar dan mendarah daging. Perangai buruk seperti itu diajari oleh para ulamanya, lalu diikuti oleh para ustad dan da'inya.

Buku di tangan Anda ini sangat menarik. Karena selain mengupas sisi-sisi penting dan langka, bahan utama penyusunan buku ini berasal dari buku-buku berpaham Wahabi, dan disajikan dengan bahasa yang ringan, namun tetap mengedepankan kualitas isi dan validitas data.

Jika Anda seorang muslim, Anda wajib memiliki buku ini. Karena ilmu, informasi, dan pencerahan di dalamnya sangat berarti bagi keberlangsungan agama Anda.

-------------------------

"Kita benar-benar telah ditimpa bencana dengan sekelompok orang yang kerjanya hanya menyebarkan tuduhan kafir dan syirik...."
(Asy-Syaikh al-Muhaddits as-Sayyid Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani -- Ulama besar sufi, Pimpinan Pesantren al-Maliki di Rusyaifah, Mekkah, Saudi Arabia)

"Mereka mengubah nama Wahabi menjadi Salafi untuk mengelabui umat Islam... Juga, agar mereka merasa aman dan nyaman dari sorotan masyarakat dalam menyebarkan dakwahnya."
(Prof. Dr. Ali Gomaa -- Ulama besar al-Azhar, sekaligus Mufti Negara Mesir)

"Jika disebut Ahlussunnah dalam kitab-kitab ilmu -dalam berbagai disiplinnya- maka sesungguhnya itu adalah Asya'irah..."
(Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, MD. -- Ulama terkemuka internasional asal Syiria, Direktur Pusat Kajian Islam di Frankfurt, Jerman)

"Pembagian Tauhid kepada Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah (sebagaimana ajaran Wahabi) adalah pembagian yang sesat menyesatkan, termasuk bid'ah dan tidak diajarkan Salaf."
(Pusat Fatwa Mesir dan al-Azhar)
Posted on 11.38 / 0 komentar / Read More

Jumat, 12 September 2014

NASIHAT-NASIHAT EMAS KHULAFAUR RASYIDIN

Penulis: John Rinaldi
Penerbit: Sabil
Harga: Rp 40.000.-

Sinopsis:

Nabi Muhammad Saw. pernah berwasiat agar umatnya berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan sunnah khulafaur rasyidin. Jika Rasulullah Saw. saja memerintahkan untuk mengikuti sunnah khulafaur rasyidin, tentu ada alasan dan hikmah luar biasa yang menyertainya.

Siapakah khulafaur rasyidin?

Khulafaur rasyidin adalah sebutan bagi empat sekawan sahabat terbaik Nabi Muhammad Saw.; Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhum. Merekalah orang-orang pilihan yang mendapatkan jaminan masuk surga tanpa hisab oleh Allah Swt.

Buku ini adalah kumpulan nasihat-nasihat emas penuh hikmah dari keempat manusia pilihan itu. Dengan mengikuti nasihat-nasihat khulafaur rasyidin, ada harapan kita juga dimasukkan ke dalam surga-Nya, mengikuti jejak mereka.

Bukankah nasihat terbaik datang dari orang-orang terbaik?
Selamat membaca!
Posted on 08.17 / 0 komentar / Read More

Selasa, 02 September 2014

JAWABAN INDAH AKIDAH AHLUS-SUNNAH WAL JAMA'AH


Penulis: Sayyid Al-'Allamah Al-Faqih Zainal Abidin Al-Alawi Al-Husaini
Penerbit: Darul Hikmah
Harga: Rp 60.000.-

Sinopsis:

Rasulullah Saw bersabda: "Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan."
Lalu sahabat bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?"
Nabi Saw menjawab: "Golongan itu adalah orang-orang yang berpegangan pada semua perbuatan yang telah aku lakukan serta semua perbuatan yang dikerjakan para sahabatku." (Sunan al-Tirmidzi: 2565)

Yang selanjutnya golongan itu disebut Ahlussunnah wal Jama'ah.

Buku karya Syaikh Sayyid Ali Zainal Abidin Al-Husain ini berisikan jawaban indah atas berbagai masalah seputar Ahlussunnah wal Jama'ah. Dengan membaca buku ini kiranya kita bisa mengetahui bahwa ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah memiliki dasar yang kokoh dari Al-Qur'an dan Hadits. 
Posted on 07.45 / 1 komentar / Read More

Rabu, 13 Agustus 2014

POKOK-POKOK KEIMANAN ALA AQIDAH ASWAJA

Terjemah Kitab Qathrul Ghaits fi Masa-il Abi Laits

Penulis: Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi
Penerjemah: Drs. M. Ali Chasan Umar
Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang
Harga: Rp 15.000

Sinopsis:

Buku Pokok-Pokok Keimanan ini sebagai hasil terjemah kitab Qathrul Ghaits Syarh Masa'il Imam Abu Laits, salah satu kitab syarah (komentar) Syaikh Nawawi atas masalah-masalah Imam Abu Laits tentang akidah dan keimanan, bidang tauhid. 

Maka di dalamnya berisi komentar-komentar tentang masalah rukun iman dan berbagai macam permasalahan yang berkembang daripadanya, yang berorientasi pada akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Sekalipun secara fisik bahwa kitab ini relatif kecil dan pada tingkat elementer, namun sangat penting kita kaji agar kita dapat menata keimanan dan meningkatkan kualitasnya.
Posted on 15.09 / 0 komentar / Read More

PESAN-PESAN RASULULLAH SAW KEPADA SAYYIDINA ALI

Terjemah Kitab Washiyyatul Musthafa

Penulis: Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni
Penerjemah: Achmad Sunarto
Penerbit: Al Miftah Surabaya
Harga: Rp 15.000

Sinopsis:

Kitab Washiyyatul Musthafa, begitu namanya yang terkenal telah kami terjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Indonesia.

Kitab ini amat penting. Menjadi pelajaran di madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren. Pelajaran wajib, ketika sang murid/santri mulai belajar. Entah sudah berada juta dulu hingga sekarang, para ustadz yang ketika belajar dahulu membaca kitab ini.

Demikian terjemahan ini kami sajikan kepada pembaca yang budiman. Semoga Allah meridhai usaha kami dan mencatatnya sebagai amal saleh. Dan kepada para pembaca yang telah sudi memberi pembetulan dan teguran, sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih, semoga Allah memberi pahala yang setimpal. Amin
Posted on 14.55 / 0 komentar / Read More

Senin, 07 Juli 2014

MENYIKAPI HADIS-HADIS YANG SALING BERTENTANGAN

Penulis: Dr. Izzuddin Husain as-Syekh
Pengantar: Prof. K.H. Ali Yafie
Penerbit: Pustaka Firdaus
 Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Pengetahuan tentang nasikh dan mansukh dalam hadis-hadis Nabi SAW, merupakan disiplin ilmu yang sangat sulit namun sangat penting, sebagaimana dikatakan oleh Al-Zuhri (124 H/724 M), bahwa kelemahan bagi para ahli fikih adalah tergantung pada sejauh mana kemampuan mereka mengetahui nasikh dan mansukh dalam hadis-hadis, dan barangsiapa yang tidak mengetahui nasikh dan mansukh maka ia akan mencampuradukkan antara yang halal dan yang haram dalam agama.

Oleh karena itu, buku ini menjadi sangat penting untuk dibaca oleh kalangan umum terutama bagi kalangan mahasiswa, bahkan bagi kalangan dosen dalam meningkatkan pengetahuan yang lebih mantap memahami syariat kita dari dua sumber pokok, yaitu al-Qur'an dan al-Sunnah.
Posted on 11.10 / 0 komentar / Read More

SABILAL MUHTADIN (2 JILID LENGKAP)

Penulis: Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Penerbit: Bina Ilmu
Harga: Rp 105.000.-

Sinopsis:

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah dilahirkan di sebuah desa dekat kota Martapura, Kalimantan Selatan sekitar Tahun 1707 M dari keluarga sederhana, dimasa pemerintahan Sultan Tahlilullah (1700-1734 M). Semenjak kecil sudah tampak ciri-ciri yang luar biasa pada dirinya, diantaranya kecerdasan serta sikap sopan santunnya sehingga Sultan tertarik dan mengirimkannya ke Makkah untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam.

Di Makkah, ia mempelajari pengetahuan agama Islam dengan SYekh Athaillah dan belajar ilmu tashawwuf dengan Syekh Muhammad bin ABdulkarim al-Madani di Madinah, dan sesudah 35 tahun menuntut ilmu ia kembali ke Kalimantan.

Sekembalinya ia mendirikan sebuah tempat pengajian yang kemudian dinamakan "Dalam Pagar". Selama 20 Tahun ia mengajar di tempat itu, banyak murid-muridnya yang datang dari pelosok kerajaan Banjar, sesudah mereka mendapat pendidikan agama yang cukup, mereka kembali ke daerah masing-masing dengan cara demikian agama Islam cepat berkembang dalam kerajaan Banjar.

Disamping mengajar, Syaikh Muhammad Arsyad banyak juga menulis kitab-kitab agama dan sebuah karya yang terbesar adalah: "Kitab Sabilal Muhtadin Lit Tafaguni Fid Din", yang terdiri dari 2 jilid yang kesemuanya beriksikan fikih Ibadah.

Kitab ini merupakan kitab yang menerangkan ilmu fikih dalam Madzhab Syafi'i. dan seluruh uraiannya diambil dari pelbagai kitab yang dikarang oleh ulama mutaakhirin dalam madzhab Syafi'i, seperti: "Syarah Minhaj" oleh Syaikhul Islam Zakariya Anshari, "Al Mugni" oleh Syekh Khatib Syrabaini, "At Tuhfah" oleh Syekh Ibnu Hajar Al Haitami, " An Nihayah Syekh Jamal" oleh Syekh Ramli dan beberapa buah matan, syarah dan komentar lainnya.
Posted on 10.19 / 0 komentar / Read More

MELURUSKAN DOKTRIN MTA

Kritik atas Dakwah Majelis Tafsir Al-Qur'an di Solo

Penulis: Nur Hidayat Muhammad
Penerbit: Muara Progresif
Harga: Rp 35.000.-

Sinopsis:

Majelis Tafsir Al-Qur'an (MTA) yang berpusat di Solo, Jawa Tengah, dan sudah berkembang di kota-kota lain, dengan slogannya "Ngaji Al-Qur'an Sak Maknane", dalam perjalanan dakwahnya sudah dianggap keluar dari batas kewajaran atau keterlaluan. Dakwahnya kerap diiringi dengan tuduhan-tuduhan bahwa amaliah Nahdliyyin, seperti tahlilan, yasinan, adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir, dan lain-lain adalah perbuatan bid'ah, syirik dan menyesatkan.

Dengan tuduhan dan vonis ekstrim yang khusus ditujukan kepada warga Nahdliyyin tersebut, baik melalui radio atau televisi sangat berpotensi memicu gesekan dan gerakan anarkisme antar sesama yang dapat merongrong persatuan umat Islam di Indonesia.

Buku Meluruskan Doktrin MTA yang ditulis oleh Nur Hidayat Muhammad ini berisi jawaban ilmiah untuk meluruskan doktrin dan fatwa-fatwa MTA yang dianggap keluar dari paham yang diusung dan disepakati oleh ulama Ahlussunnah wal Jama'ah.

Penulis buku ini mencoba memberikan jawaban berdasarkan al-Qur'an, al-Sunnah, dan ijtihad para ulama dengan pendekatan yang lebih halus sebagai titah menjalankan amar ma'ruf nahi munkar dan nasihat kepada sesama Muslim.

Buku ini berisi bantahan fatwa-fatwa MTA yang menggugat amaliah warga Nahdliyyin, serta jawaban atas komentar Ustadz Ahmad Sukina, Pimpinan MTA, yang disiarkan via Radio MTA FM dan media internet.
Posted on 09.46 / 0 komentar / Read More

IMAM PEREMPUAN

Penulis: Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A.
Penerbit: Pustaka Firdaus
Harga: Rp 17.000

Sinopsis:

Selama lebih dari empat belas abad umat Islam menjalankan agamanya dengan tenang dan tenteram. Namun tiba-tiba mereka digoyang oleh perilaku Dr. Amina Wadud yang menjadi imam shalat Jum'at dengan makmum campuran lelaki dan perempuan. Ternyata perilaku ini disponsori oleh kelompok yang bercita-cita antara lain agar wanita muslimah bebas melakukan free-sex.

Sejumlah pendukung Aminah Wadud juga mengusung hadits Ummu Waraqoh sebagai dalil untuk masalah itu. Bagaimana sebenarnya duduk masalah imam perempuan itu menurut al-Qur'an dan Hadis. Simak saja buku kecil ini, Anda akan mendapatkan jawabannya.
Posted on 09.09 / 0 komentar / Read More

DIHAJIKAN OLEH SEBONGGOL JAGUNG

61 Kisah Luar Biasa Orang-orang yang Memperoleh Pertolongan Allah

Penulis: Badiatul Roziqin
Penerbit: Real Books
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Allah Swt tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya "berkubang" dalam kesulitan. Karena, di dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan (QS. al-Insyirah [94]: 5-6). Demikian janji Allah yang tidak mungkin diingkari-Nya sendiri.

Buku ini memuat 61 kisah pilihan tentang orang-orang yang terlilit persoalan kehidupan, kemudian atas izin Allah, mereka mendapatkan pertolongan-Nya. Tepat sekali bila Anda membaca buku ini sebagai penghilang stres dan penambah nutrisi jiwa sehingga menjadi penyemangat hidup setelah lelah bekerja, dan sebagai hiburan serta inspirasi Anda bahwa sesungguhnya pertolongan Allah Swt itu begitu dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.

--------

"Buku ini berisi kisah nyata orang-orang yang mendapat pertolongan dari Allah dengan cara penuh keajaiban. Tidak terduga sebelumnya. Terkadang, solusinya tidak masuk akal. Tetapi, cerita-ceritanya sangat bagus." (Ust. Drs. Ahmad Sholeh, M.Ag -- Mubaligh)

"Buku ini sangat inspiratif bagi mereka yang merindukan motivasi di tengah-tengah kegalauan." (Sulaiman al-Kumayi, M.A. -- Kandidat Doktor Islamic Sutidies)

"Kisah-kisah Islami dalam buku ini terasa kuat dalam membangun karakter dan benar-benar bermutu. Anda harus baca buku ini pertama kali." (M. Rofiuddin -- Wartawan TEMPO)

"Bacalah kisah-kisah nyata dalam buku ini agar Anda termotivasi untuk meraih sukses." (Fauzi Abdurrahman -- Praktisi Bisnis)

"Kisah-kisah Islami dalam buku ini benar-benar menginsiprasi kita untuk berani bertindak, bertawakkal dan bertauhid secara kuat." (Wiwid Prasetyo -- Wartawan Majalah Islam FURQON)
Posted on 08.20 / 0 komentar / Read More

Sabtu, 05 Juli 2014

ENSIKLOPEDI SEKTE

Hitam Putih Aliran dan Gerakan Islam Kontemporer

Penulis: Tim Kajian Bindhara (Kelompok Studi Al-Azhar Kairo)
Penerbit: Bina Aswaja
Harga: Rp 60.000

Sinopsis:

TAK MUDAH membentuk sebuah komunitas kajian yang kondusif dan dialogis. Beragam latar belakang dan ambisi masing-masing kepala menjadi tantangan tersendiri. Lahirnya buku "Ensiklopedi Sekte: Hitam-Putih Aliran dan Gerakan Islam Kontemporer" ini adalah pengecualian. Para penulisnya, yang notabene kalangan santri tradisional, dituntut bersikap obyektif dan dengan kepala dingin saat harus berinteraksi dengan literatur-literatur sekte yang masih eksis dalam Islam. Bagaimanapun gejolak psikologis kerap menghantam, terlebih saat membaca literatur sekte Syiah Isma'iliyah yang agak ekstrim atau bahkan Druze yang 'gelap-gulita' hingga literatur Sunni yang sudah diacak-acak dan menjadi buram.

Namun, Tim Kajian Bindhara berhasil melalui terjalnya tantangan itu. Buku sederhana ini berangkat dari sebuah kegelisahan penulis-penulisnya tentang polemik sekte dan gerakan Islam yang tak berkesudahan dan awamnya kita terhadap kajian yang sejatinya sangat familiar di masa klasik Islam. Buku ini mencoba membahasakan kembali tradisi sarjana-sarjana perbandingan agama dan sekte di masa klasik Islam—semacam As-Syahrastani, Ibn Hazm dan Al-Bagdadi— sehingga lebih akrab di telinga anak zaman. Buku ini dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk memahami sekte dan gerakan keislaman yang masih eksis dan berkembang hingga dewasa ini.

11 sekte dan gerakan Islam yang dimuat dalam buku ini bukan sebuah kesimpulan final dan semena-mena, namun atas pertimbangan eksistensi, prestasi (kualitas-kuantitas), dan kematangan konsep atau pergerakannya. Sebagai pintu terbuka, buku ini tak menutup kemungkinan adanya sekte atau pergerakan yang luput dari amatannya. Sementara corak dan identitas yang menonjol dari masing-masing sekte dan pergerakan menjadi pertimbangan menarik lainnya.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar... v
Daftar Isi... viii

AHLUSUNAH WALJAMAAH
Menyegarkan Kembali Paham Ahlusunah Waljamaah... 1
• Identifikasi Metodologis Aswaja ... 4
• Keseimbangan Akal dan Teks ... 5
• Takwil dan Tafwidl sebagai Mazhab Salaf ... 7
• Karakter Umum Aswaja ... 9
• Pengkafiran Atas Nama Aswaja ... 12

JAMAAH TABLIGH
Pro-Kontra Paham Jamaah Tabligh ... 17
• Pendiri dan Latar Belakang Jamaah Tabligh ... 22
• Akidah, Pemikiran dan Doktrin-doktrin Jamaah Tabligh... 28
• Bijak Menyikapi Jamaah Tabligh ... 37

SALAFI-WAHABI
Gerakan Pemurnian Akidah Islam... 41
• Sekilas Tentang Pendiri Wahabisme ... 43
• Latar Belakang Kemunculan Gerakan Wahhabi... 46
• Meluruskan Keterpengaruhan Ibnu Abdul Wahhabi oleh Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal... 49
• Ideologi Monoteisme Wahabi... 51
• Shalat di Kuburan dalam Kaca Mata Wahabi... 55

HIZBUT TAHRIR
Menilik Secercah Pemahaman Hizbut Tahrir ...59
• Hizbut Tahrir Lahir dan Tersebar ... 63
• Khilafah dalam Kaca Mata Hizbut Tahrir ... 70
• Qadla' dan Qadar dalam Perspektif Hizbut Tahrir... 75
• Hizbut Tahrir: Hukum Melihat Gambar Telanjang "Boleh" ... 81

IKHWANUL MUSLIMIN
Moderatisme dan Pembaharuan Islam ... 89
• Menghindari Fanatisme dalam Ideologi... 94
• Misi Rekonsiliasi Politik dan Agama ... 100
• Tensi Politik Era Sayid Qutub ... 104
• Tasawuf Menurut Hasan al-Bana ... 108

SYIAH IMAMIYAH
Sejarah dan Distorsi Ajaran Syiah Imamiyah ... 114
• Sejarah Lahirnya Syiah Imamiyah ... 116
• Imamologi dan Teori Keghaiban ... 120
• Sifat-Sifat Para Imam ... 126
• Respon Sarjana-sarjana Syiah Mengenai Distorsi Alquran... 130
• Epilog... 135

SYIAH ZAIDIYAH
Menelisik Komposisi Syiah Zaidiyah ... 137
• Akar Kemunculan Syiah Zaidiyah ... 142
• Zaidiyah, Sekte Syiah yang Moderat dan Toleran ...144
• Ideologi Zaidiyah, Copy Paste Ideologi Muktazilah... 148
• Meneropong Praktek Syariah Syiah Zaidiyah ... 153
• Perkembangan Syiah Zaidiyah dari Masa ke Masa... 156

SYIAH ISMAILIYAH
Potret Naluri Politik Ismailiyah dan Kepincangan Akidahnya... 162
• Teori Imamologi, Akar Pergolakan Internal Syiah ... 165
• Sekte-Sekte Pecahan Ismailiyah ... 173
• Ajaran Prematur Ismailiyah ... 178

KHAWARIJ
Sisi Moderatisme Khawarij; Ibadiyah Sebagai Model... 183
• Selisik Histori; Kausa Kelahiran dan Invasi Pemikiran... 185
• Praktik Syariat... 190
• Posisi Ibadiyah dalam Teologi... 191
• Imamah dalam Kacamata Ibadiyah ... 194

AHMADIYAH
Koreksi Paham Keislaman Ahmadiyah ... 198
• Sekilas Tentang Pendiri Ahmadiyah ... 201
• Peran Inggris dalam Kesuksesan Dakwah Ahmadiyah... 209
• Eksistensi Nabi Isa Menurut Perspektif Ahmadiyah... 215
• Koreksi Kebenaran Klaim Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Nabi... 222
• Hukum Bermakmum Kepada Selain Ahmadiyah ... 231
• Tirai di Balik Penasakhan Jihad dalam Ajaran Ahmadiyah... 233

DRUZE
Identifikasi Identitas Druze Sebagai Sekte Islam... 238
• Negeri Seribu Menara; Cikal Bakal Druze Muda ... 240
• Konsep Hulul dan Pemahaman Druze Seputar Ketuhanan... 244
• Pemahaman Druze Mengenai Para Utusan dan Kitabullah... 246
• Ritual Sekte Druze ... 249

Bibliografi... 253
Biodata Kontributor... 262

Posted on 08.54 / 0 komentar / Read More

DIKAFIRKAN TAPI TIDAK KAFIR

Menjawab 33 Syubhat Alasan Kebodohan dalam Pengkafiran

Penulis: Ahmad Taqiuddin
Penerbit: Hilal Media
Harga: Rp 55.000

Sinopsis:

Mengapa perdebatan vonis kafir seperti tidak pernah berakhir? Bahkan ada gejalan sebagian da'i sibuk memvonis nama ini dan itu! Optimasi dakwah tauhid ataukah vonis kafir lebih bermanfaat bagi keselamatan umat?

Ahmad Taqiuddin, seorang hafidz mutqin dan banyak menggali ilmu dari ulama Yaman mendudukan masalah tersebut dengan sangat baik dalam hubungannya dengan alasan kebodohan:

  • Batasan kebodohan sebagai penghalang vonis kafir
  • Perbedaan kebodohan bagi kafir asli dan ahli kiblat
  • Masa fatrah
  • Makna hujjah telah tegak
  • Tingkat pemahaman hujjah dalam perbedaan waktu dan tempat
  • Prinsip ulama dalam vonis kafir terhadap individu
  •  Lebih dari 33 dalil yang sering digunakan oleh kelompok yang suka mengkafirkan dijawab penulis di buku ini
Posted on 08.48 / 0 komentar / Read More

Rabu, 25 Juni 2014

MUHAMMADIYAH ITU NU!

Dokumen Fiqih Yang Terlupakan

Penulis: Mochammad Ali Shodiqin
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 65.000

Sinopsis:

Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.

“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.

Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.

Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.

Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.

Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.

Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).

Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.

“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.

Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.

Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.

Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.

Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.

Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”

Sumber:
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014



Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU

Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU


Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU


Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU
Posted on 14.31 / 0 komentar / Read More

Rabu, 11 Juni 2014

ASH-SHARFUL MUYASSAR

Sharf Mudah dan Praktis

Penulis: M. Abdullah Habib
Penerbit: Aswaja Pressindo
Harga: Rp 36.000.-

Sinopsis:

Di antara cabang ilmu bahasa Arab adalah ilmu Sharaf. Ilmu sharaf membahas bentuk-bentuk kalimah (kata). Buku ini adalah buku yang membahas tentang Sharaf secara sederhana dan mudah dipahami sehingga buku ini dapat dijadikan sebagai tangga dasar dalam memahami Sharaf.

Metode buku ini dalam pengenalan Sharaf seperti halnya metide iqra' dalam pengenalan huruf-huruf hijaiyah. Itulah sebabnya penulis memberi judul buku ini "Ash-Sharful Muyassar", yang artinya Sharaf Mudah.

Dalam buku ini penulis berusaha meminimalkan penyebutan istilah-istilah Sharaf sebelum masuk ke materi yang di dalamnya istilah-istilah itu akan digunakan. Contoh-contoh kata untuk bahan latihan tashrif juga dicantumkan di buku ini. Contoh kata tersebut penulis pilihkan kata yang sering dipakai dalam kitab-kitab berbahasa Arab.

Dengan mempelajari ilmu Sharaf melalui buku kecil ini diharapkan pelajar/santri mampu mentashrif, artinya mengubah satu bentuk kata ke bentuk lainnya sesuai makna yang diinginkan.

Membaca buku ini hendaknya secara berurutan, sebelum satu masalah benar-benar faham jangan diteruskan ke permasalahan berikutnya. 

Selamat belajar..
Posted on 16.58 / 0 komentar / Read More

AN-NAHWUL MUYASSAR

Metode Praktis Belajar Bahasa Arab bagi Semua Kalangan

Penulis: M. Abdullah Habib
Penerbit: Aswaja Pressindo
Harga: Rp 38.000

Sinopsis:

Ilmu Nahwu merupakan salah satu di antara ilmu bahasa Arab. Di dalamnya dibicarakan bentuk-bentuk susunan kalimat serta penentuan harakat akhir setiap kata dalam kalimat tersebut. Dengan mempelajari ilmu ini seseorang akan lebih mudah memahami kalimat dalam bahasa Arab karena ia dapat mengetahui kedudukan setiap kata dalam kalima tersebut, baik sebagai mubtada', khabar, fa'il, maf'ul atau lainnya.

Kajian utama dalam buku ini dititikberatkan pada tata bahasa yang sering dipergunakan dalam kitab-kitab bahasa Arab dengan sasaran para pemula. Diharapkan setelah membaca buku ini mereka dapat memahami arah dan tujuan serta kegunaan ilmu ini. Biasanya santri/pelajar yang sudah memahami dasar ilmu ini ia akan selalu berusaha mengembangkannya, di saat membaca al-Qur'an dan ia temukan bentuk susunan kalimat yang belum ia ketahui, ia biasanya akan mencai jawabannya.

Membaca buku ini hendaknya secara berurutan dan bagi pemula hendaknya diawali membaca As-Sharful Muyassar terlebih dahulu, karena buku ini merupakan kelanjutannya.


Posted on 13.39 / 0 komentar / Read More

Rabu, 04 Juni 2014

REKAM JEJAK RADIKALISME SALAFI WAHABI

Penulis: Achmad Imron R.
Penerbit: Khalista
Harga: Rp 60.000.-

Sinopsis:

Wahabi atau wahhabiyah merupakan sebutan bagi pengikut paham Muhammad bin Abdil Wahhab. Sekilas gerakan puritan yang belakangan akrab disebut Salafi Wahabi ini terlihat paling Islam, paling ahli mengafirkan sesama muslim, paling bertauhid dan seterusnya. Namun dibalik itu, doktrin dan ajarannya sangat berbahaya dan harus dijauhi umat Islam. Sejak awal kemunculannya sampai sekarang, sekte Wahabi selalu mengalami pertentangan dengan mayoritas kaum muslimin yang sejak dulu berpaham Ahlussunnah wal Jama'ah.

Dalam konteks ini, buku Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi hadir menguak sejarah, doktrin, dan akidah Wahabi yang destruktif, kerap menyulut konflik dan perpecahan. Secara sistematis buku ini membahas Sejarah Radikalisme Wahabi, Wahabi Tanduk Setan dari Timur, Doktrin Wahabi Penyulut Konflik Umat Islam, Tauhid Rububiyah-Uluhiyah Wahabi, Akidah Tajsim Wahabi, dan Kontradiksi Akidah Wahabi. Datanya pun sangat valid dan lengkap disertai scan referensi-referensi utama wahabi, serta diurai secara sistematis dan ilmiah.

Dengan membacanya kaum muslimin dapat lebih memahami dan mewaspadai doktrin-doktrin menyimpang yang disebarluaskan Salafi Wahabi, sehingga tidak terjebak dalam berbagai propagandanya yang selalu mengatasnamakan Islam.
Posted on 06.30 / 0 komentar / Read More

Selasa, 27 Mei 2014

MENJAWAB PROBLEMATIKA UMAT

Kumpulan Keputusan Bahtsul Masail PC NU Klaten (2009 - 2014)

Penulis: Tim LBM NU Klaten
Halaman: xiv + 342
Penerbit: LBM NU Klaten & Zahida Pustaka
Harga: Rp 60.000

Sinopsis:

Al-Qur'an adalah kitab hukum, artinya berfungsi sebagai hukum untuk semua persoalan, dan tentu hal ini tidak menafikan fungsi lainnya. Para fuqaha bahkan sudah menyepakati bahwa al-Qur'an adalah sumber utama hukum Islam, dan yang menarik lagi, dalam al-Qur'an (surat an-Nisa: 105) dijelaskan bahwa untuk mengambil sebuah keputusan hukum dari al-Qur'an, Allah SWT memberikan otoritas kepada seseorang (bimaa araakallaahu). Artinya, hasil ijtihad seseorang yang disandarkan kepada nash al-Qur'an. Seperti dijelaskan oleh Imam Syatibi bahwa hukum Islam adalah al-Qur'an itu sendiri, berarti qiyas-nya Syafi'iyyah, istislah-nya Malikiyyah, istihsan-nya Hanafiyyah, dan dalil zhahiriyyah-nya Hanabilah adalah legitimed dalam perspektif Qur'anik.

Fiqih adalah hukum-hukum syara' yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci, dan merupakan aktivitas penalaran manusia dalam mencoba memahami syariah. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh kapabilitas, sosiokultural dan sosiopolitik faqih/fuqaha yang bersangkutan. Oleh karena itu, apabila muncul banyak perbedaan dalam masalah fiqih maka sesungguhnya itu merupakan karakteristik fiqih yang tidak bisa dihindari. Itulah sebabnya fiqih dapat mengandung multikebenaran walaupun tidak terbebas dari sifatnya yang nisbi.

Sebagaimana yang sudah dipahami bahwa cakupan fiqih adalah semua hukum yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam segala lini kehidupan yang melingkupinya, seperti aktivitas beribadah, transaksi jual-beli, politik, pengadilan hukum perdata, tentang amar ma'ruf, pernikahan, dan bahkan segala sektor kehidupan manusia sekecil apa pun tak luput dari sorotan fiqih. Begitu luasnya kajian fiqih sehingga sampai bergerak dan diamnya manusia pun menjadi topik kajian fiqih.

Buku yang disusun Tim LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PC NU Klaten ini menjadi penting untuk dibaca, mengingat persoalan masyarakat yang mengemuka sering kali meresahkan. Dibahas secara ilmiah dengan metode tanya-jawab serta memakai bahasa yang sederhana dan tidak berbelit-belit, siapa pun akan mudah mencerna dan memahami isi buku ini. Di dalamnya Anda akan menemukan jawaban atas berbagai hal yang selama ini dipertanyakan. (Drs. KH. Muchlish Hudaf)
Posted on 11.01 / 1 komentar / Read More

Sabtu, 24 Mei 2014

TERJEMAH TANQIHUL QAUL (HARD COVER)

Penulis: Muhammad bin Umar An-Nawawi
Penerbit: Al-Hidayah
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Buku ini adalah terjemah dari kitab "Tanqihul Qaul al-Hatsits fii Syarhi Lubab al-Hadits" yang merupakan hasil karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi, sedangkan kitab "Lubabul Hadits" adalah karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Buku ini membahas tentang berbagai amalan yang utama, baik yang wajib maupun yang sunnah, serta dilengkapi dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang dapat memberikan motivasi dan pedoman dalam menjalankan amalan-amalan tersebut. 

Buku ini terbagi menjadi 40 bab yang dimulai dengan bab tentang keutamaan ilmu dan ulama, dan diakhiri dengan bab tentang keutamaan sabar saat terkena musibah.

Semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Posted on 11.24 / 0 komentar / Read More

TERJEMAH AL-MINAHUS SANIYYAH

Wasiat Mustafa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada Imam Ali Radhiyallahu 'Anhu

Penulis: Abdul Wahab Asy-Sya'rani
Penerbit: Mutiara Ilmu
Harga: Rp 19.000

Sinopsis:

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, sebaik apapun manusia itu, ia pasti pernah melakukan sebuah kesalahan walaupun itu kesalahan kecil. Ada sebuah ungkapan bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa karena manusia adalah makhluk yang paling lemah di antara makhluk yang lain.

Allah Swt memberi solusi kepada manusia untuk menghapus semua dosa-dosa atas segala kesalahan dengan jalan bertaubat. Karena itulah bab pertama dari buku "Al-Minahus Saniyyah" ini adalah pembahasan tentang taubat. Taubat adalah inti bagi seorang hamba untuk pendekatan kepada Sang Pencipta.

Buku "Al-Minahus Saniyyah" ini mengajarkan pada kita bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah seta menjauhi sifat-sifat yang dapat merusak pahala ibadah kita.
Posted on 11.06 / 0 komentar / Read More

TERJEMAH NASHAIHUL IBAD

Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani
Syarah: Muhammad Nawawi bin Umar
Penerbit: Pustaka Amani Jakarta
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Kitab ini merupakan santapan rohani yang baku bagi para santri di lingkungan ponsok pesantren dan majelis-majelis taklim.

Oleh karena itu, penulis berusaha menyajikan buku ini agar lebih mudah dicerna, dihayati, dan diamalkan oleh semua lapisan umat Islam, terutama kaum remaja yang belum mampu membaca kitab kuning.

Mudah-mudahan bermanfaat
Posted on 10.56 / 0 komentar / Read More

TANBIHUL GHAFILIN (2 JILID)

Penulis: Abu Laits As-Samarqandhi
Penerbit: Pustaka Amani
Harga: Rp 125.000.-

Sinopsis:
Nasehat Al-Faqih menjelaskan bahwa barang siapa ingin selamat dari siksa kubur, maka kita harus senantiasa mengerjakan empat hal dan menjauhkan diri dari empat hal. Empat hal yang harus selalu dikerjakan adalah :
(1) Salat, (2) sedekah, (3) membaca Al-Qur'an, dan (4) banyak membaca tasbih. Keempat hal itu akan membuat kubur terang dan lapang.
Sedangkan empat hal yang harus ditinggalkan adalah:
(1) Dusta, (2) Khianat, (3) Adu Domba, dan (4) Berhati-hati dalam masalah buang air kecil.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda:
Yang artinya:
"Bersihkanlah sewaktu kencing, karena kebanyakan siksa kubur itu disebabkan oleh kencing."
(Halaman 57)

Al Faqih menuturkan dari Abu Ja'far,
dari Ali bin Muhammad Al Wiraq, dari An'am, dari Abdurrahman Al Hubla, dari Abdullah bin Amr Al Ash, bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Ada tujuh golongan yang nanti pada hari kiamat tidak akan dilihat Allah dan Dia tidak akan mensucikan mereka, serta Dia akan berfirman kepada mereka, 'Masuklah kamu ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka, yaitu :
1) Laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya (homoseksual);
2) Orang yang kawin dengan tangannya;
3) Orang yang menyetubuhi binatang;
4) Orang yang bersetubuh dengan istrinya melalui anus istrinya;
5) Orang yang bersetubuh dengan wanita dan anak perempuannya;
6) Orang yang berzina dengan istri tetangganya, dan;
7) Orang yang menyakiti tetangganya serta diketahui oleh orang banyak, kecuali jika ia bertobat dengan memenuhi syarat-syaratnya"
(Halaman 241)

Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata, "Ada sepuluh macam perilaku yang termasuk tindakan kejam, yaitu :
1. Seseorang yang berdo'a untuk dirinya sendiri, tetapi tidak mendoakan kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin.
2. Seseorang yang pandai membaca Al Qur-an, tetapi tidak membaca 100 ayat tiap harinya,
3. Seseorang yang masuk masjid dan keluar lagi tanpa mengerjakan shalat dua rakaat.
4. Seseorang yang melewati kubur tetapi tidak mengucapkan salam dan mendoakan ahli kubur.
5. Seseorang yang masuk suatu kota pada hari Jum'at kemudian ia keluar lagi tanpa mengerjakan salat Jum'at.
6. Seseorang yang kedatangan orang pandai (alim) di daerahnya tetapi tidak belajar apa pun darinya.
7. Dua orang yang bertemu di perjalanan tetapi tidak saling menanyakan namanya.
8. Seseorang yang diundang untuk berkunjung tetapi tidak berkunjung kepada orang yang mengundangnya.
9. Pemuda yang menyia-nyiakan masa mudanya.
10. Seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan tetapi ia tidak mau memberi makanan sedikit pun kepada tetangganya."
(Halaman 249).
Posted on 06.26 / 0 komentar / Read More
 
Copyright © 2011 . Toko Buku ASWAJA . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates