Selamat datang di Toko Buku Aswaja. Kami bantu Anda untuk mendapatkan buku-buku Islam berpaham Ahlussunnah wal Jama'ah. Silakan hubungi sms center kami. Kami akan melayani Anda dengan senang hati.

Sabtu, 05 Juli 2014

ENSIKLOPEDI SEKTE

Hitam Putih Aliran dan Gerakan Islam Kontemporer

Penulis: Tim Kajian Bindhara (Kelompok Studi Al-Azhar Kairo)
Penerbit: Bina Aswaja
Harga: Rp 60.000

Sinopsis:

TAK MUDAH membentuk sebuah komunitas kajian yang kondusif dan dialogis. Beragam latar belakang dan ambisi masing-masing kepala menjadi tantangan tersendiri. Lahirnya buku "Ensiklopedi Sekte: Hitam-Putih Aliran dan Gerakan Islam Kontemporer" ini adalah pengecualian. Para penulisnya, yang notabene kalangan santri tradisional, dituntut bersikap obyektif dan dengan kepala dingin saat harus berinteraksi dengan literatur-literatur sekte yang masih eksis dalam Islam. Bagaimanapun gejolak psikologis kerap menghantam, terlebih saat membaca literatur sekte Syiah Isma'iliyah yang agak ekstrim atau bahkan Druze yang 'gelap-gulita' hingga literatur Sunni yang sudah diacak-acak dan menjadi buram.

Namun, Tim Kajian Bindhara berhasil melalui terjalnya tantangan itu. Buku sederhana ini berangkat dari sebuah kegelisahan penulis-penulisnya tentang polemik sekte dan gerakan Islam yang tak berkesudahan dan awamnya kita terhadap kajian yang sejatinya sangat familiar di masa klasik Islam. Buku ini mencoba membahasakan kembali tradisi sarjana-sarjana perbandingan agama dan sekte di masa klasik Islam—semacam As-Syahrastani, Ibn Hazm dan Al-Bagdadi— sehingga lebih akrab di telinga anak zaman. Buku ini dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk memahami sekte dan gerakan keislaman yang masih eksis dan berkembang hingga dewasa ini.

11 sekte dan gerakan Islam yang dimuat dalam buku ini bukan sebuah kesimpulan final dan semena-mena, namun atas pertimbangan eksistensi, prestasi (kualitas-kuantitas), dan kematangan konsep atau pergerakannya. Sebagai pintu terbuka, buku ini tak menutup kemungkinan adanya sekte atau pergerakan yang luput dari amatannya. Sementara corak dan identitas yang menonjol dari masing-masing sekte dan pergerakan menjadi pertimbangan menarik lainnya.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar... v
Daftar Isi... viii

AHLUSUNAH WALJAMAAH
Menyegarkan Kembali Paham Ahlusunah Waljamaah... 1
• Identifikasi Metodologis Aswaja ... 4
• Keseimbangan Akal dan Teks ... 5
• Takwil dan Tafwidl sebagai Mazhab Salaf ... 7
• Karakter Umum Aswaja ... 9
• Pengkafiran Atas Nama Aswaja ... 12

JAMAAH TABLIGH
Pro-Kontra Paham Jamaah Tabligh ... 17
• Pendiri dan Latar Belakang Jamaah Tabligh ... 22
• Akidah, Pemikiran dan Doktrin-doktrin Jamaah Tabligh... 28
• Bijak Menyikapi Jamaah Tabligh ... 37

SALAFI-WAHABI
Gerakan Pemurnian Akidah Islam... 41
• Sekilas Tentang Pendiri Wahabisme ... 43
• Latar Belakang Kemunculan Gerakan Wahhabi... 46
• Meluruskan Keterpengaruhan Ibnu Abdul Wahhabi oleh Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal... 49
• Ideologi Monoteisme Wahabi... 51
• Shalat di Kuburan dalam Kaca Mata Wahabi... 55

HIZBUT TAHRIR
Menilik Secercah Pemahaman Hizbut Tahrir ...59
• Hizbut Tahrir Lahir dan Tersebar ... 63
• Khilafah dalam Kaca Mata Hizbut Tahrir ... 70
• Qadla' dan Qadar dalam Perspektif Hizbut Tahrir... 75
• Hizbut Tahrir: Hukum Melihat Gambar Telanjang "Boleh" ... 81

IKHWANUL MUSLIMIN
Moderatisme dan Pembaharuan Islam ... 89
• Menghindari Fanatisme dalam Ideologi... 94
• Misi Rekonsiliasi Politik dan Agama ... 100
• Tensi Politik Era Sayid Qutub ... 104
• Tasawuf Menurut Hasan al-Bana ... 108

SYIAH IMAMIYAH
Sejarah dan Distorsi Ajaran Syiah Imamiyah ... 114
• Sejarah Lahirnya Syiah Imamiyah ... 116
• Imamologi dan Teori Keghaiban ... 120
• Sifat-Sifat Para Imam ... 126
• Respon Sarjana-sarjana Syiah Mengenai Distorsi Alquran... 130
• Epilog... 135

SYIAH ZAIDIYAH
Menelisik Komposisi Syiah Zaidiyah ... 137
• Akar Kemunculan Syiah Zaidiyah ... 142
• Zaidiyah, Sekte Syiah yang Moderat dan Toleran ...144
• Ideologi Zaidiyah, Copy Paste Ideologi Muktazilah... 148
• Meneropong Praktek Syariah Syiah Zaidiyah ... 153
• Perkembangan Syiah Zaidiyah dari Masa ke Masa... 156

SYIAH ISMAILIYAH
Potret Naluri Politik Ismailiyah dan Kepincangan Akidahnya... 162
• Teori Imamologi, Akar Pergolakan Internal Syiah ... 165
• Sekte-Sekte Pecahan Ismailiyah ... 173
• Ajaran Prematur Ismailiyah ... 178

KHAWARIJ
Sisi Moderatisme Khawarij; Ibadiyah Sebagai Model... 183
• Selisik Histori; Kausa Kelahiran dan Invasi Pemikiran... 185
• Praktik Syariat... 190
• Posisi Ibadiyah dalam Teologi... 191
• Imamah dalam Kacamata Ibadiyah ... 194

AHMADIYAH
Koreksi Paham Keislaman Ahmadiyah ... 198
• Sekilas Tentang Pendiri Ahmadiyah ... 201
• Peran Inggris dalam Kesuksesan Dakwah Ahmadiyah... 209
• Eksistensi Nabi Isa Menurut Perspektif Ahmadiyah... 215
• Koreksi Kebenaran Klaim Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Nabi... 222
• Hukum Bermakmum Kepada Selain Ahmadiyah ... 231
• Tirai di Balik Penasakhan Jihad dalam Ajaran Ahmadiyah... 233

DRUZE
Identifikasi Identitas Druze Sebagai Sekte Islam... 238
• Negeri Seribu Menara; Cikal Bakal Druze Muda ... 240
• Konsep Hulul dan Pemahaman Druze Seputar Ketuhanan... 244
• Pemahaman Druze Mengenai Para Utusan dan Kitabullah... 246
• Ritual Sekte Druze ... 249

Bibliografi... 253
Biodata Kontributor... 262

Posted on 08.54 / 0 komentar / Read More

DIKAFIRKAN TAPI TIDAK KAFIR

Menjawab 33 Syubhat Alasan Kebodohan dalam Pengkafiran

Penulis: Ahmad Taqiuddin
Penerbit: Hilal Media
Harga: Rp 55.000

Sinopsis:

Mengapa perdebatan vonis kafir seperti tidak pernah berakhir? Bahkan ada gejalan sebagian da'i sibuk memvonis nama ini dan itu! Optimasi dakwah tauhid ataukah vonis kafir lebih bermanfaat bagi keselamatan umat?

Ahmad Taqiuddin, seorang hafidz mutqin dan banyak menggali ilmu dari ulama Yaman mendudukan masalah tersebut dengan sangat baik dalam hubungannya dengan alasan kebodohan:

  • Batasan kebodohan sebagai penghalang vonis kafir
  • Perbedaan kebodohan bagi kafir asli dan ahli kiblat
  • Masa fatrah
  • Makna hujjah telah tegak
  • Tingkat pemahaman hujjah dalam perbedaan waktu dan tempat
  • Prinsip ulama dalam vonis kafir terhadap individu
  •  Lebih dari 33 dalil yang sering digunakan oleh kelompok yang suka mengkafirkan dijawab penulis di buku ini
Posted on 08.48 / 0 komentar / Read More

Rabu, 25 Juni 2014

MUHAMMADIYAH ITU NU!

Dokumen Fiqih Yang Terlupakan

Penulis: Mochammad Ali Shodiqin
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 65.000

Sinopsis:

Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.

“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.

Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.

Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.

Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.

Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.

Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).

Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.

“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.

Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.

Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.

Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.

Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.

Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”

Sumber:
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014



Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU

Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU


Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU


Saat mengimami salat subuh di sebuah masjid di lingkungan warga Nahdlatul Ulama, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan fasih dan lancar membaca qunut. Adalah pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang kerap mengungkapkan keluhuran budi tokoh Muhammadiyah itu.
“Buya dikenal amat toleran menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyyah dan furu’iyya,” ujar Zarkasyi suatu ketika.
Ahmad Dahlan dan warga Muhammadiyah pada masanya secara fiqih memang berpegang pada mahzab Imam Syafi’i. Amalan ibadah mazhab ini tetap dipraktekkan warga NU hingga sekarang. Hal itu bisa dipahami karena Kiai Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang mendirikan NU sama-sama satu nasab dari Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Juga sama-sama menjadi murid Syekh Shaleh Darat di Semarang, yang merujuk pada mazhab Syafi’i.
Sekurangnya ada 35 isu fikih Muhammadiyah yang prakteknya sama dengan NU. Hal itu tertuang dalam kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid III terbitan 1924. Pameo klasik “satu guru, satu ilmu, jangan ganggu” pun benar-benar terjaga di antara kedua warga organisasi massa tersebut kala itu. Lantas, kenapa dan kapan Muhammadiyah berubah? Tentu secara bertahap.
Gerakan awal Muhammadiyah di bawah Kiai Dahlan lebih pada pembauran tafsir sosial keagamaan. Muhammadiyah sibuk mengurusi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kaum pinggiran.
Namun, ketika dia membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global dengan cara mengajarkan huruf Latin dan bahasa Belanda, bibit-bibit perubahan pun masuk. Benteng tradisi Muhammadiyah melemah, dan fikih mazhab Syafi’i pun lambat laun tanggal.
Pada 1925, dua tahun setelah Kiai Dahlan berpulang, Muhammadiyah mulai menerima paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud, yang hendak mendirikan kekhalifan Wahhabi. Lantas Muhammadiyah membuat benteng keterbukaan berlabel “Islam tanpa mazhab” sekaligus menjebol tradisi umat Islam dengan slogan anti-TBC (takhayul, bid’ah dan churafat).
Beruntung, masih ada KH Mas Mansur, yang mendirikan Majelis Tarjih pada 1927 agar Muhammadiyah tak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan Inggris dan negara-negara Barat. Sepanjang pendiriaan, 1912 hingga 1967, mazhab Syafi’i masih diamalkan walaupun makin sedikit.
“Mazhab ini baru dihilangkan semasa Orde Baru berkuasa, yang ditandai dengan dihapusnya qunut lewat muktamar Pekalongan, 1972,” tulis Mochamad Ali Shodikin, penulis buku ini.
Dengan demikian, slogan Islam tanpa mazhab benar-benar berhasil dibuktikan, dan dipandang sebagai prestasi. Sebaliknya bagi kebanyakan warga NU, langkah itu kian menyulitkan mencari alim ulama di lingkungan saudara tuanya. Alim ulama yang memahami jejak-jejak amalan khas NU yang diamalkan Kiai Dahlan di dalam keseharian warga Muhammadiyah kala itu.
Ali membagi fase atau masa perubahan masa Muhammadiyah menjadi empat, yaitu masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa Himpunan Putusan Tarjih (1967-1995), dan Masa Pembauran Himpunan Putusan Tarjih-Globalisasi (1995-kini). Di buku ini, semua itu terhimpun dalam bab Fiqih Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
Sebagai pelengkap, Ali menyertakan salinan dari kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Ali merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Tanya-Jawab Agama, situs resmi Muhammadiyah, dan buku-buku terbitan Suara Muhammadiyah sebagai sumber kepustakaan.
Pemerhati perkembangan Islam di Nusantara itu mengaku sempat mengalami dilema hingga perlu lima kali melakukan revisi naskah buku ini. Ia khawatir penerbitan buku ini akan menurunkan hujan fitnah yang akan menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Padahal tujuan utamanya adalah mengugah warga kedua ormas untuk bersatu, bersama-sama merancang masa depan negeri ini.
Seperti diingatkan KH Thoba Abdurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia Yogyakarya, dalam pengantarya, “Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.”
Media: Majalah Detik
Edisi : 14-20 April 2014
- See more at: http://www.mizan.com/detail/1304-Jabat-Tangan-Sejarah-Muhammadiyah-dan-NU#.U6p5J0BtxvU
Posted on 14.31 / 0 komentar / Read More

Rabu, 11 Juni 2014

ASH-SHARFUL MUYASSAR

Sharf Mudah dan Praktis

Penulis: M. Abdullah Habib
Penerbit: Aswaja Pressindo
Harga: Rp 36.000.-

Sinopsis:

Di antara cabang ilmu bahasa Arab adalah ilmu Sharaf. Ilmu sharaf membahas bentuk-bentuk kalimah (kata). Buku ini adalah buku yang membahas tentang Sharaf secara sederhana dan mudah dipahami sehingga buku ini dapat dijadikan sebagai tangga dasar dalam memahami Sharaf.

Metode buku ini dalam pengenalan Sharaf seperti halnya metide iqra' dalam pengenalan huruf-huruf hijaiyah. Itulah sebabnya penulis memberi judul buku ini "Ash-Sharful Muyassar", yang artinya Sharaf Mudah.

Dalam buku ini penulis berusaha meminimalkan penyebutan istilah-istilah Sharaf sebelum masuk ke materi yang di dalamnya istilah-istilah itu akan digunakan. Contoh-contoh kata untuk bahan latihan tashrif juga dicantumkan di buku ini. Contoh kata tersebut penulis pilihkan kata yang sering dipakai dalam kitab-kitab berbahasa Arab.

Dengan mempelajari ilmu Sharaf melalui buku kecil ini diharapkan pelajar/santri mampu mentashrif, artinya mengubah satu bentuk kata ke bentuk lainnya sesuai makna yang diinginkan.

Membaca buku ini hendaknya secara berurutan, sebelum satu masalah benar-benar faham jangan diteruskan ke permasalahan berikutnya. 

Selamat belajar..
Posted on 16.58 / 0 komentar / Read More

AN-NAHWUL MUYASSAR

Metode Praktis Belajar Bahasa Arab bagi Semua Kalangan

Penulis: M. Abdullah Habib
Penerbit: Aswaja Pressindo
Harga: Rp 38.000

Sinopsis:

Ilmu Nahwu merupakan salah satu di antara ilmu bahasa Arab. Di dalamnya dibicarakan bentuk-bentuk susunan kalimat serta penentuan harakat akhir setiap kata dalam kalimat tersebut. Dengan mempelajari ilmu ini seseorang akan lebih mudah memahami kalimat dalam bahasa Arab karena ia dapat mengetahui kedudukan setiap kata dalam kalima tersebut, baik sebagai mubtada', khabar, fa'il, maf'ul atau lainnya.

Kajian utama dalam buku ini dititikberatkan pada tata bahasa yang sering dipergunakan dalam kitab-kitab bahasa Arab dengan sasaran para pemula. Diharapkan setelah membaca buku ini mereka dapat memahami arah dan tujuan serta kegunaan ilmu ini. Biasanya santri/pelajar yang sudah memahami dasar ilmu ini ia akan selalu berusaha mengembangkannya, di saat membaca al-Qur'an dan ia temukan bentuk susunan kalimat yang belum ia ketahui, ia biasanya akan mencai jawabannya.

Membaca buku ini hendaknya secara berurutan dan bagi pemula hendaknya diawali membaca As-Sharful Muyassar terlebih dahulu, karena buku ini merupakan kelanjutannya.


Posted on 13.39 / 0 komentar / Read More

Rabu, 04 Juni 2014

REKAM JEJAK RADIKALISME SALAFI WAHABI

Penulis: Achmad Imron R.
Penerbit: Khalista
Harga: Rp 60.000.-

Sinopsis:

Wahabi atau wahhabiyah merupakan sebutan bagi pengikut paham Muhammad bin Abdil Wahhab. Sekilas gerakan puritan yang belakangan akrab disebut Salafi Wahabi ini terlihat paling Islam, paling ahli mengafirkan sesama muslim, paling bertauhid dan seterusnya. Namun dibalik itu, doktrin dan ajarannya sangat berbahaya dan harus dijauhi umat Islam. Sejak awal kemunculannya sampai sekarang, sekte Wahabi selalu mengalami pertentangan dengan mayoritas kaum muslimin yang sejak dulu berpaham Ahlussunnah wal Jama'ah.

Dalam konteks ini, buku Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi hadir menguak sejarah, doktrin, dan akidah Wahabi yang destruktif, kerap menyulut konflik dan perpecahan. Secara sistematis buku ini membahas Sejarah Radikalisme Wahabi, Wahabi Tanduk Setan dari Timur, Doktrin Wahabi Penyulut Konflik Umat Islam, Tauhid Rububiyah-Uluhiyah Wahabi, Akidah Tajsim Wahabi, dan Kontradiksi Akidah Wahabi. Datanya pun sangat valid dan lengkap disertai scan referensi-referensi utama wahabi, serta diurai secara sistematis dan ilmiah.

Dengan membacanya kaum muslimin dapat lebih memahami dan mewaspadai doktrin-doktrin menyimpang yang disebarluaskan Salafi Wahabi, sehingga tidak terjebak dalam berbagai propagandanya yang selalu mengatasnamakan Islam.
Posted on 06.30 / 0 komentar / Read More

Selasa, 27 Mei 2014

MENJAWAB PROBLEMATIKA UMAT

Kumpulan Keputusan Bahtsul Masail PC NU Klaten (2009 - 2014)

Penulis: Tim LBM NU Klaten
Halaman: xiv + 342
Penerbit: LBM NU Klaten & Zahida Pustaka
Harga: Rp 60.000

Sinopsis:

Al-Qur'an adalah kitab hukum, artinya berfungsi sebagai hukum untuk semua persoalan, dan tentu hal ini tidak menafikan fungsi lainnya. Para fuqaha bahkan sudah menyepakati bahwa al-Qur'an adalah sumber utama hukum Islam, dan yang menarik lagi, dalam al-Qur'an (surat an-Nisa: 105) dijelaskan bahwa untuk mengambil sebuah keputusan hukum dari al-Qur'an, Allah SWT memberikan otoritas kepada seseorang (bimaa araakallaahu). Artinya, hasil ijtihad seseorang yang disandarkan kepada nash al-Qur'an. Seperti dijelaskan oleh Imam Syatibi bahwa hukum Islam adalah al-Qur'an itu sendiri, berarti qiyas-nya Syafi'iyyah, istislah-nya Malikiyyah, istihsan-nya Hanafiyyah, dan dalil zhahiriyyah-nya Hanabilah adalah legitimed dalam perspektif Qur'anik.

Fiqih adalah hukum-hukum syara' yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci, dan merupakan aktivitas penalaran manusia dalam mencoba memahami syariah. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh kapabilitas, sosiokultural dan sosiopolitik faqih/fuqaha yang bersangkutan. Oleh karena itu, apabila muncul banyak perbedaan dalam masalah fiqih maka sesungguhnya itu merupakan karakteristik fiqih yang tidak bisa dihindari. Itulah sebabnya fiqih dapat mengandung multikebenaran walaupun tidak terbebas dari sifatnya yang nisbi.

Sebagaimana yang sudah dipahami bahwa cakupan fiqih adalah semua hukum yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam segala lini kehidupan yang melingkupinya, seperti aktivitas beribadah, transaksi jual-beli, politik, pengadilan hukum perdata, tentang amar ma'ruf, pernikahan, dan bahkan segala sektor kehidupan manusia sekecil apa pun tak luput dari sorotan fiqih. Begitu luasnya kajian fiqih sehingga sampai bergerak dan diamnya manusia pun menjadi topik kajian fiqih.

Buku yang disusun Tim LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PC NU Klaten ini menjadi penting untuk dibaca, mengingat persoalan masyarakat yang mengemuka sering kali meresahkan. Dibahas secara ilmiah dengan metode tanya-jawab serta memakai bahasa yang sederhana dan tidak berbelit-belit, siapa pun akan mudah mencerna dan memahami isi buku ini. Di dalamnya Anda akan menemukan jawaban atas berbagai hal yang selama ini dipertanyakan. (Drs. KH. Muchlish Hudaf)
Posted on 11.01 / 1 komentar / Read More

Sabtu, 24 Mei 2014

TERJEMAH TANQIHUL QAUL (HARD COVER)

Penulis: Muhammad bin Umar An-Nawawi
Penerbit: Al-Hidayah
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Buku ini adalah terjemah dari kitab "Tanqihul Qaul al-Hatsits fii Syarhi Lubab al-Hadits" yang merupakan hasil karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi, sedangkan kitab "Lubabul Hadits" adalah karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Buku ini membahas tentang berbagai amalan yang utama, baik yang wajib maupun yang sunnah, serta dilengkapi dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang dapat memberikan motivasi dan pedoman dalam menjalankan amalan-amalan tersebut. 

Buku ini terbagi menjadi 40 bab yang dimulai dengan bab tentang keutamaan ilmu dan ulama, dan diakhiri dengan bab tentang keutamaan sabar saat terkena musibah.

Semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Posted on 11.24 / 0 komentar / Read More

TERJEMAH AL-MINAHUS SANIYYAH

Wasiat Mustafa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada Imam Ali Radhiyallahu 'Anhu

Penulis: Abdul Wahab Asy-Sya'rani
Penerbit: Mutiara Ilmu
Harga: Rp 19.000

Sinopsis:

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, sebaik apapun manusia itu, ia pasti pernah melakukan sebuah kesalahan walaupun itu kesalahan kecil. Ada sebuah ungkapan bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa karena manusia adalah makhluk yang paling lemah di antara makhluk yang lain.

Allah Swt memberi solusi kepada manusia untuk menghapus semua dosa-dosa atas segala kesalahan dengan jalan bertaubat. Karena itulah bab pertama dari buku "Al-Minahus Saniyyah" ini adalah pembahasan tentang taubat. Taubat adalah inti bagi seorang hamba untuk pendekatan kepada Sang Pencipta.

Buku "Al-Minahus Saniyyah" ini mengajarkan pada kita bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah seta menjauhi sifat-sifat yang dapat merusak pahala ibadah kita.
Posted on 11.06 / 0 komentar / Read More

TERJEMAH NASHAIHUL IBAD

Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani
Syarah: Muhammad Nawawi bin Umar
Penerbit: Pustaka Amani Jakarta
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:

Kitab ini merupakan santapan rohani yang baku bagi para santri di lingkungan ponsok pesantren dan majelis-majelis taklim.

Oleh karena itu, penulis berusaha menyajikan buku ini agar lebih mudah dicerna, dihayati, dan diamalkan oleh semua lapisan umat Islam, terutama kaum remaja yang belum mampu membaca kitab kuning.

Mudah-mudahan bermanfaat
Posted on 10.56 / 0 komentar / Read More

TANBIHUL GHAFILIN (2 JILID)

Penulis: Abu Laits As-Samarqandhi
Penerbit: Pustaka Amani
Harga: Rp 125.000.-

Sinopsis:
Nasehat Al-Faqih menjelaskan bahwa barang siapa ingin selamat dari siksa kubur, maka kita harus senantiasa mengerjakan empat hal dan menjauhkan diri dari empat hal. Empat hal yang harus selalu dikerjakan adalah :
(1) Salat, (2) sedekah, (3) membaca Al-Qur'an, dan (4) banyak membaca tasbih. Keempat hal itu akan membuat kubur terang dan lapang.
Sedangkan empat hal yang harus ditinggalkan adalah:
(1) Dusta, (2) Khianat, (3) Adu Domba, dan (4) Berhati-hati dalam masalah buang air kecil.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda:
Yang artinya:
"Bersihkanlah sewaktu kencing, karena kebanyakan siksa kubur itu disebabkan oleh kencing."
(Halaman 57)

Al Faqih menuturkan dari Abu Ja'far,
dari Ali bin Muhammad Al Wiraq, dari An'am, dari Abdurrahman Al Hubla, dari Abdullah bin Amr Al Ash, bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Ada tujuh golongan yang nanti pada hari kiamat tidak akan dilihat Allah dan Dia tidak akan mensucikan mereka, serta Dia akan berfirman kepada mereka, 'Masuklah kamu ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka, yaitu :
1) Laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya (homoseksual);
2) Orang yang kawin dengan tangannya;
3) Orang yang menyetubuhi binatang;
4) Orang yang bersetubuh dengan istrinya melalui anus istrinya;
5) Orang yang bersetubuh dengan wanita dan anak perempuannya;
6) Orang yang berzina dengan istri tetangganya, dan;
7) Orang yang menyakiti tetangganya serta diketahui oleh orang banyak, kecuali jika ia bertobat dengan memenuhi syarat-syaratnya"
(Halaman 241)

Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata, "Ada sepuluh macam perilaku yang termasuk tindakan kejam, yaitu :
1. Seseorang yang berdo'a untuk dirinya sendiri, tetapi tidak mendoakan kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin.
2. Seseorang yang pandai membaca Al Qur-an, tetapi tidak membaca 100 ayat tiap harinya,
3. Seseorang yang masuk masjid dan keluar lagi tanpa mengerjakan shalat dua rakaat.
4. Seseorang yang melewati kubur tetapi tidak mengucapkan salam dan mendoakan ahli kubur.
5. Seseorang yang masuk suatu kota pada hari Jum'at kemudian ia keluar lagi tanpa mengerjakan salat Jum'at.
6. Seseorang yang kedatangan orang pandai (alim) di daerahnya tetapi tidak belajar apa pun darinya.
7. Dua orang yang bertemu di perjalanan tetapi tidak saling menanyakan namanya.
8. Seseorang yang diundang untuk berkunjung tetapi tidak berkunjung kepada orang yang mengundangnya.
9. Pemuda yang menyia-nyiakan masa mudanya.
10. Seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan tetapi ia tidak mau memberi makanan sedikit pun kepada tetangganya."
(Halaman 249).
Posted on 06.26 / 0 komentar / Read More

Rabu, 30 April 2014

TRADISI KEISLAMAN

Dilengkapi dengan Dalil Al-Qur'an, Al-Hadits dan Do'a

Penulis: Ach. Nadlif & M. Fadlun
Penerbit: Al-Miftah Surabaya
Harga: Rp 25.000

Sinopsis:

Buku ini memuat tentang kebudayaan Jawa ditinjau dari perspektif hukum Islam. Kita tahu bahwa mayoritas suku Jawa beragama Islam, tentunya dalam ajaran agama Islam dan kebudayaan Jawa banyak terjadi ketidaksesuaian, misalnya tentang upacara kelahiran, kematian, sesaji, dan lain sebagainya.

Berbagai upacara tradisional tersebut merupakan adat istiadat yang tidak mungkin bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Dalam buku ini dibahas bagaimana akulturasi (pencampuran) nilai-nilai Islami dalam budaya Jawa. Pembauran inilah yang masih dapat kita lihat dalam sendi-sendi kehidupan suku Jawa, misalnya tentang upacara akekahan, yang diambil dari syariat Islam aqiqah, dan sebagainya.

Posted on 10.05 / 1 komentar / Read More

HADIS HADIS PALSU SEPUTAR RAMADHAN

Penulis: Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Ya'qub, M.A.
Penerbit: Pustaka Firdaus
Harga: Rp 33.000

Sinopsis:

Tulisan Ali Mustafa Ya'qub di sebuah media massa ibukota bertajuk Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan mendapat tanggapan luas. Salah satunya adalah tanggapan dari Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang menilai Ali Mustafa Ya'qub melakukan kekeliruan yang besar.

Apa komentar Ali Mustafa Ya'qub atas penilaian itu? 

"Kami sungguh merasa gembira atas penilaian itu. Hati kami merasa berbunga-bunga, seolah-olah kami mendapatkan emas segede Gunung Merapi," begitu katanya.

Dan melalui buku ini, ia menanggapi kembali tanggapan Majelis Tarjih Muhammadiyah itu.

Bagaimana isi tanggapan Majelis Tarjih Muhammadiyah dan tanggapan balik Ali Mustafa Ya'qub itu selengkapnya? Simak sajalah buku ini dengan cermat.
Posted on 08.52 / 0 komentar / Read More

AYAH BUNDA NABI SAW DI SURGA

Terjemah Kitab Al-Hujaj Al-Wadhihat Fi Najat Al-Abawain wa Al-Ajdad wa Al-Ummahat

Penulis: Sayyid Ishaq Azuz Al-Hasani Al-Makki
Penerbit: Pustaka Al-Khairat
Harga: Rp 20.000

Sinopsis:

Buku ini bantahan untuk para manusia usil nan bodoh yang merasa bisa meraih pahala ketika mampu mengkafirkan ayah dan bunda Nabi SAW.
 
Memahami hadits dengan mengedepankan hawa nafsu belaka sehingga yang terjadi adalah minimnya adab pada Nabi-nya sendiri, hingga mengkafirkan ayah dan ibu Rasulallah SAW.
 
Qadhi Ibnu Arabi Al-Maliki menjelaskan, tidak ada celaan yang lebih besar dari celaan orang yang menyatakan kedua orang tua nabi SAW berada di neraka.
 
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." {QS. Al-Ahzab: 57).
 
Kalaupun kita tidak bisa mengagungkan Nabi yang mulia, setidaknya kita tidak menjadi pencaci yang menyakitinya.

Posted on 08.44 / 0 komentar / Read More

SEJARAH & DALIL-DALIL PERAYAAN MAULID NABI SAW

Penulis: Al-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliky Al-Hasany
Penerbit: Al-Asri Pekalongan
Harga: Rp 35.000

Sinopsis:

Setelah saya baca dengan teliti dan dilakukan koreksi seperlunya terhadap naskah terjemahan Maulid Nabi Muhammad Saw, maka menurut pendapat saya selayaknya buku ini dimiliki dan dipelajari oleh segenap umat Islam, karena di dalam buku tersebut, pengarangnya yaitu Al-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky (seorang ulama besar di Mekkah Saudi Arabiah) telah mengemukakan pendapatnya dengan mengajukan 21 (dua puluh satu) dalil tentang perlu dan pentingnya bagi umat Islam untuk mengadakan perayaan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad Saw itu.

Dengan mempelajari isi buku ini, diharapkan pembaca dapat memetik beberapa pelajaran yang berharga, yaitu dapat memupuk kecintaan mereka kepada insan yang agung dan meneladani perilaku utama yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad Saw itu. (KH. Habib Luthfi bin Ali Yahya)
Posted on 08.34 / 0 komentar / Read More

LEBIH DALAM TENTANG NU

Telaah tentang Amaliah Nahdliyin Serta Menyingkap Fatwa, Manhaj dan Ideologi Ulama dan Tokoh Salafi Wahabi

Penulis: Nurhidayat Muhammad
Penerbit: Bina Aswaja
Harga: Rp 28.000.-

Sinopsis:
Ditulisnya buku ini bukan untuk memupuk perselisihan antara NU dengan yang lain, tetapi kehadirannya diharapkan mampu tampil sebagai informasi yang akurat dan ilmiah bahwa NU adalah organisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah dan hadir lebih moderat sebagai rahmat bagi segenap alam. Insya'Allah.

Dalam buku ini, kami tidak akan pernah memunculkan stigma kafir atau musyrik kepada sekte Salafi-Wahabi atau yang semisal dengan mereka, meski mereka melakukan sebaliknya. Kami mencoba berbaik sangka bahwa mereka melakukan semua itu adalah karena rasa cintanya kepada Islam dan demi tegaknya syariat Islam. Tetapi nasehat, peringatan, dan amar ma'ruf nahi munkar kepada sesama muslim harus ditegakkan, termasuk kepada mereka yang gemar mengkafirkan dan tidak menoleransi khilafiyah dalam masalah-masalah furu' dan lain-lain.

Posted on 07.50 / 0 komentar / Read More

Jumat, 25 April 2014

OTENTISITAS HADIS SHALAT TARAWIH 20 RAKAAT (SANGGAHAN TERHADAP AL-ALBANI)

Penulis: Syeikh Ismail Al-Anshari
Penerbit: Pustaka Fidaus
Harga: Rp 24.000

Sinopsis:

Shalat Tarawih 23 rakaat itu adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Hal itu merupakan ijma' sahabat pada masa Umar bin al-Khaththab yang kemudian dijadikan pegangan oleh Imam Abu Hanifah, Imam al-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Bagi saya, apa yang menjadi ijma' sahabat itu tidak boleh ditentang. (Imam Ibnu Abd al-Barr).

Shalat Tarawih 20 rakaat merupakan ijma' sahabat. Dan apa yang menjadi ijma' sahabat itu lebih utama dan lebih berhak untuk diikuti. (Imam Ibnu Qudamah).

Hadis yang shahih menyebutkan bahwa Ubay bin Ka'ab mengimami shalat pada bulan Ramadhan 20 rakaat dan 3 witir. Maka banyak ulama menyatakan bahwa hal itu adalah Sunnah, karena ia shalat di hadapan orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang menentang hal itu. (Imam Ibnu Taimiyah).
Posted on 17.33 / 0 komentar / Read More

Jumat, 18 April 2014

SYAAMIL QUR'AN MIRACLE THE REFERENCE (NEW)

Panduan Terlengkap & Praktis Mengamalkan Al-Qur'an

Penerbit: Sygma Publishing Bandung
Harga: Rp 350.000
Bonus 2 DVD + 3 Buku (66 in 1)
Berat: 2,8 kg

22 Konten Unggulan

1. Terjemah Tafsiriyah Perkata
2. Zikir Al-Ma'tsurat
3. Sistem Pewarnaan Tajwid
4. Panduan Hukum Tajwid
5. Terjemah Kementerian Agama RI
6. Munasabah Ayat dan Surah
7. Tafsir Ath-Thabari
8. Tafsir Ibnu Katsir
9. Doa dan Dzikir
10. Hadits Shahih
11. Kosakata
12. Asbabunnuzul
13. Doa dalam Al-Qur'an
14. Keyword
15. Khazanah Pengetahuan
16. Tanda-tanda dalam Al-Qur'an
17. Asmaul Husna
18. Indeks Tematik
19. Sirah Nabawiyah
20. Atlas Sirah Nabawiyah
21. Analisis Peta
22. User Guide

44 Bonus Berbahasa Indonesia

Konten DVD 1:

1. Aplikasi digital dari konten unggulan Al-Qur'an Miracle the Reference
2. Murattal Imam Musyari Rasyid
3. Murattal Imam Ali Al Ajmi
4. Murattal Imam Sa'ad Al-Ghamidi
5. Murattal Imam Shadiq Al-Mansawi
6. Video Belajar Membaca Al-Qur'an Metode Syabana
7. Vodeo Tuntunan Ibadah Haji & Umrah
8. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1
9. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2
10. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3
11. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4
12. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5
13. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6
14. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7
15. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8
16. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9
17. E-book Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10
18. E-book Bulughul Maram
19. E-book Sirah Nabawiyah
20. E-book 101 Doa Penuntun Hidup Sukses
21. E-book Complete of Dzikir
22. E-book Rahasia Kekayaan Tertinggi

Konten DVD 2:

23. Video Tuntunan Praktis Shalat
24. Video Tuntunan Praktis Thaharah
25. Video Belajat Membaca Al-Qur'an Metode Syamil
26. Audio Book Kisah Kematian Penggugah Iman
27. Audio Book Secret of Happiness
28. Audio Book Muslim Abad 21
29. Audio Book Menjadi Pasangan Paling Bahagia
30. Audio Book 114 Kisah Doa yang Dikabulkan
31. Audio Book Ibadah Muslim Kosmopolitan
32. Audio Book Keajaiban Al-Qur'an
33. Audio Book Rahasia Kekuatan Doa Melalui Asmaul Husna
34. Audio Book Agar Malaikat Berdoa Untukmu
35. Audio Murattal Imam Muhammad Jibril
36. Audio Murattal Imam Faris Abbas
37. Audio Murattal Imam Maher al-Muaiqly
38. Audio Murattal Imam Ali Al-Hudzaifi

Konten Buku Penuntun Praktis
Ibadah Cara Nabi-1

39. Thaharah
40. Shalat
41. Doa & Dzikir Sehari-hari

Konten Buku Penuntun Praktis 
Ibadah Cara Nabi-2

42. Shaum
43. Zakat-Infaq-Shadaqah
44. Haji - Umrah
Posted on 08.07 / 0 komentar / Read More

Selasa, 15 April 2014

RIWAYAT LENGKAP PRIBADI NABI MUHAMMAD SAW

Terjemah Kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyah

Penulis: Al-Imam Al-Hafizh Abu Isa At-Tirmidzi
Penerbit: Mitra Pustaka
Harga: Rp 60.000.-

Sinopsis:

"Di antara kitab terbaik yang pernah ditulis tentang pribadi Rasulullah Saw adalah kitab Imam Tirmidzi ini, yang disusun padat berisi, kandungannya sempurna mengenai kehidupan beliau. Membaca kitab ini bab demi bab, seolah berhadapan langsung dengan Rasulullah Saw, menyaksikan keindahan dan keagungan beliau.
O, betapa agung utusan mulia
Betapa elok kitab asy-Syama'il
Orang yang menyimaknya akan terbayang
seolah beliau dahan nan melambai dibelai sang bayu." (Ali bin Sulthan al-Qari).

"Wahai para karibku, meski sang kekasih tlah jauh di mata
Kalian tiada berkesempatan bertemu dan melihat beliau.
Namun inilah kitab  perihal pribadi beliau.
Mengurai kesempurnaan dan akhlak beliau
serta sifat-sifat keutamaan tiada terhingga." (Muhammad bin Muhammad al-Jazari).

"Di antara orang yang menyusun riwayat perihal Nabi Muhammad Saw yang paling  baik dan paling berfaedah adalah Imam Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi Rahimahullahu Ta'ala.
Beliau menyusunnya dalam sebuah kitab tersendiri yang terkenal dengan Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah ini. Kami memiliki isnad yang bersambung bagi kitab ini dari guru ke guru hingga sampai kepada beliau." (Abu Fida' Isma'il Ibnu Katsir).
Posted on 13.12 / 0 komentar / Read More

Jumat, 11 April 2014

MEMBONGKAR DUSTA DAN KESESATAN KELOMPOK ANTI MADZHAB

Penulis: Nur Hidayat Muhammad
Penerbit: Nasyrul 'Ilmi Publishing
Harga: Rp 35.000.-

Sinopsis:


Di antara pertanyaan mengusik yang kerap dilontarkan oleh kalangan anti madzhab adalah:

"Bukankah Rasulullah Saw. tidak pernah menitahkan umatnya untuk mengikuti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi'i dan imam-imam yang lain? Bukankah mereka muncul setelah kurun ketiga?"

"Apakah ada dalil yang menyebutkan manusia kelak sesudah wafat di dalam kuburnya ditanya tentang madzhab dan thariqahnya?"

"Dasar pedoman Islam adalah al-Qur'an dan as-Sunnah yang terjaga (ma'shum) dari salah. Sedangkan mengikuti para imam madzhab empat, bukankah berpaling dari mengikuti yang ma'shum menuju yang tidak ma'shum?"


Buku yang disusun oleh penulis muda produktif, Nur Hidayat Muhammad ini berisi bantahan dan jawaban cerdas nan ilmiah Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi atas pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas yang dilontarkan oleh golongan anti madzhab. Mereka menolak taqlid dan sikap fanatik kepada imam madzhab, akan tetapi mereka begitu mati-matian membela Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.


Jadi, buku ini betul-betul penting dimiliki oleh siapa pun yang ingin lebih mantap akan kebenaran ajaran ahlussunah wal jamaah. Selamat membaca.

 
DAFTAR ISI


 KATA PENGANTAR iii
MUKADDIMAH viii
DAFTAR ISI xv
BIOGRAFI RINGKAS DR. MUHAMMAD SAID RAMADHAN AL-BUTHI 1
SEKILAS TENTANG KITAB AL-LA MADZHABIYYAH 4
MUQADDIMAH CETAKAN EDISI TERBARU 8
MUQADDIMAH GETAKAN KEDUA 10
BANTAHAN MULA RAMADHAN AL-BUTHI 23
CATATAN RINGKAS ISI KITAB AL-KURRAS 25
DIALOG DR. AL-BUTHI DENGAN AL-ALBANI 30
DIALOG SEPUTAR MUJTAHID DALAM SATU MASALAH 34
DIALOG SEPUTAR KAIDAH USHUL "MUTHLAQ MUQAYYAD" 36
BANTAHAN TERHADAP ISI KITAB AL-KURRAS 40
• Dalil Pertama; Islam Hanya Beberapa kalimat 41
• Dalil Kedua: al-Qur'an dan as-Sunnah ma'shum dari salah 46
• Ijtihad bagian dan agama atau tidak? 49
• Kaidah adalah: "Laa zimul madzhabi laisa bi madzhabi" 49
• Dalil Ketiga: Pertanyaan Kubur tentang Madzhab 52
• Dalil Keempat: Mengutip kitab al-lnshaf karya Syah Waliyullah ad-Dihlawi 55
• Dalil Kelima: Kutipan dari Izzuddin bin Abdissalam, Ibnu Qayyim al-Jauzi dan Kamal bin Humam 58
• Dalil Keenam: Persepsi awal mula munculnya madzhab 69
• Dalil Ketujuh; Manusia sebelum munculnya imam madzhab, mendapat petunjuk atau sesat? 72

KEHARUSAN TAQLID DAN TIDAK ADA LARANGAN MENGIKUTI MADZHAB TERTENTU SERTA DALIL- DALILNYA 75
Pertama: Keharusan Taqlid 76
Kedua: Tidak Haram Mengikuti Satu Madzhab Saja 86
PENGERTIAN TAQLID DAN MENGIKUTI MADZHAB 94
KAPAN WAJIB BERHENTI TAQLID 98
APA YANG TERJADI JIKA MANUSIA TIDAK BERMADZHAB 100
CATATAN DIALOG DR. AL-BUTHI DENGAN PELAJAR ANTI MADZHAB 111
SANGGAHAN AL-ALBANI DAN JAWABAN-JAWABAN DR. AL-BUTHI 128
KESIMPULAN PENTING TENTANG PERBEDAAN TAQLID DAN ITTIBA' 170
KEPUTUSAN HAI'AH KIBAR ULAMA 179

Posted on 21.26 / 0 komentar / Read More

BENTENG AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

Penulis: Nur Hidayat Muhammad
Penerbit: Nasyrul 'Ilmi Publishing
Harga: Rp 45.000 (Disc. 10%)

Sinopsis:

Dalam buku ini anda akan diajak untuk mengenali aliran-aliran yang ada di Indonesia serta aspek-aspek penyimpangannya. Pada bagian kedua dikupas masalah-masalah yang kerap diperdebatkan antara warga NU dengan aliran-aliran baru seperti Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salafi-Wahhabi dan yang satu varian dengan mereka. Di bagian akhir terdapat tanya jawab seputar tarekat sufi, sebagai penegas amaliah tarekat sufi tidak bertentangan dengan syariat. 

Buku ini diharapkan sanggup menjadi BENTENG AHLUSSUNAH WAL JAMAAH dari serangan aliran-aliran dan faham yang saat ini marak dan berbeda dengan mayoritas umat. Selamat membaca.
Melalui buku yang ditulis al-Akh Nur Hidayat Muhammad ini, kita bisa mengenali seperti apa kondisi sekte-sekte yang kini berkembang, khususnya di Indonesia, baik dari segi proses kelahirannya maupun sikap mereka terhadap para ulama. 

Mereka adalah sekte-sekte yang dipenuhi dengan orang-orang awam yang penuh emosi. Dalam beragama mereka hanya bermodal klaim. Mereka memahami agama bak orang kejar-kejaran. Hanya berbekal dalil sekenanya mereka mengklaim telah memahami ajaran Rasulullah dengan semurni-murninya. Pantaskah ucapan seperti itu ditujukan untuk memahami ajaran yang sempurna ini. Semoga Allah menunjukkan mereka ke jalan yang lebih lurus dan diridhai-Nya. Amin..

Posted on 21.19 / 0 komentar / Read More

DALIL-DALIL PRAKTIS AMALIAH NAHDLIYAH

Penulis: KH. Marzuqi Mustamar
Penerbit: Muara Progresif
Harga: Rp 50.000

Sinopsis:
Keraguan dalam agama adalah musibah terbesar dalam hidup. Ironisnya musibah ini belakangan kerap melanda umat islam di negeri ini, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Salah satu penyebabnya adalah merebaknya beberapa firqah atau kelompok yang terus saja menggugat keabsahan amaliah warga NU.

Akibatnya, umat menjadi bingung. Masyarakat awam yang ilmunya terbatas dan lemah dalam berargumentasi sangat membutuhkan pencerahan. Karena itu, upaya untuk meringankan atau bahkan menghindarkan umat dari musibah besar ini sangat dibutuhkan. Salah satunya dilakukan dengan menghimpun dalil-dalil pilihan ini, yang terdiri beberapa ayat al-Qur'an, Hadist dan pendapat para ulama.

Buku ini merupakan kebutuhan primer sebagai bekal menghadapi "propaganda" yang menggoyahkan keyakinan terhadap amaliah dan akidah Ahlussunnah Waljama'ah an-Nahdliyah. Dilengkapi pula dengan karya Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari:
- Muqaddimah Qanun Asasi
- Mukhtashar Risalah Ahlussunnah Waljama'ah

Pengantar Penterjemah:

Terjemahan saya ini berasal dari sebuah kitab berbahasa Arab yang menghimpun banyak hadits secara tematik berkaitan dengan dalil-dalil amaliah, fiqhiah, i'tiqadiah, bahkan beberapa hal yang berkaitan dengan organisasi NU. Kitab ini ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar yang saat ini menjadi salah satu Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur dan Ketua PCNU Kota Malang.

Kiprah beliau sebagai Kiai yang ahli dan spesialis "Pembela Aswaja" sudah sangat jelas terlihat dari kitab beliau ini dan dalam banyak ceramah-ceramah beliau. Bahkan jika mengamati lebih jauh, beliau telah menjadi "sosok ideolog" di bidang Aswaja dan ke-NU-an, selevel dengan KH. Muhyiddin Abdushshomad (Jember), dan di bidang ini pula saat ini beliau menjadi Dewan Pakar di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Sesuai yang beliau sampaikan dalam mukaddimahnya, bahwa kitab ini merupakan kebutuhan primer sebagai bekal menghadapi "propaganda" yang menggoyahkan keyakinan terhadap amaliah dan akidah Aswaja. Padahal sebenarnya itu sudah berlangsung ribuan tahun dan dilakukan oleh mayoritas umat Islam di dunia. Maka yang banyak beliau cantumkan di kitab ini adalah ratusan hadits yang dilengkapi dengan perawi haditsnya, bahkan kebanyakan telah disertai derajat haditsnya, baik yang shahih, hasan maupun dlaif. Ketika saya mendapat kitab ini, maka saya teringat perkataan imam kita:
As-Syafi'i berkata: "Jika aku melihat seorang yang ahli hadits, maka aku seolah melihat seorang sahabat Rasulullah Saw." [Ibnu Muflih al-Hanbali, al-Adab asy-Syar'iyah, 1/286)

Saya juga teringat dengan perkataan teman karib saya, Mas Teguh Rachmanto [Wakil Sekretaris PCNU Surabaya), yang pernah membacakan sebuah buku laporan dari intelijen Amerika. Di dalamnya dikisahkan bahwa ketika melihat dinamika yang terjadi saat ini, orang Barat berpandangan sedang terjadi "Hadits War" (perang hadits dalam berhujjah) dalam dunia Islam. Maka, agar kita tidak kalah, dalam kitab inilah kita temukan hujjah-hujjahnya. Hujjah-hujjah yang akurat dapat memantabkan para jamaah dan menggoyahkan lawan. (Tafsir Ar-Razi, An-Nahl: 125)

Dalam menerjemahkan buku ini, saya telah berusaha keras memahaminya dan merujuk kepada kitab-kitab Syarah Hadits seperti Fath al-Bari (karya al-Hafidz Ibnu Hajar), Syarah Muslim (karya Imam an-Nawawi), Faidl al-Qadir (karya al-Hafidz al-Munawi), dan sebagainya Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang terbaik untuk menerjemahkan kitab besar ini. Semoga kelemahan saya tidak mengurangi kebesaran kitab al-Muqtathafat ini. Amin

DAFTAR ISI

Mukaddimah iv
Pengantar penerjemah vi
Daftarisi viii

Bab I
Keutamaan Al-Qur'an, Surat-Surat dan Ayat-Ayat Tertentu 1
1. Pentingnya Menghafal Al-Qur'an atau Sebagiannya dan Keutamaannya yang Besar 3
2. Keutamaan Mendengarkan Al-Qur'an dan Mengeraskan Bacaan untuk Diperdengarkan dan Bolehnya Melagukan Al-Qur'an 3
3. Bolehnya Membaca Sebagian Ayat atau Surat Pilihan yang Tertentu dan Faidahnya 4
4. Anjuran Membaca Ayat Kursi dan Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq dan Surat an-Nas Setelah Shalat Fardlu 9
5. Anjuran Membaca Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq dan Surat an-Nas 7 Kali Setelah Shalat Jum'at 10
6. Bolehnya Menghadiahkan Bacaan Al-Qur'an untuk Mayit 11

Bab II
Shalawat 14
1. Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi Saw 14
2. Anjuran Memperbanyak Shalawat Kepada Nabi Saw, Khususnya Di Hari Jum'at dan Malamnya 15
3. Anjuran Membaca Hamdalah dan Shalawat Nabi Sebelum Doa 16
4. Keutamaan Majelis Shalawat Nabi Saw 17

Bab III
Macam-macam Dzikir 19

Bab IV
Macam-macam Doa 31
1. Kumpulan Doa yang Bersumber Dari Nabi Saw 31
2. Bolehnya Doa Penyembuhan (Ruqyah) 57
3. Kesunnahan Mengangkat Kedua Tangan Dalam Doa 61

Bab V
Keutamaan Majelis Dzikir, Doa, Membaca Al-Qur'an dan Shalawat Kepada Nabi Saw 64

Bab VI
Tawasul dan Mencari Berkah 76

Bab VII
Amal Ibadah, Dzikir dan Doa untuk Orang Lain Akan Berguna, Baik Hidup atau Mati 86

Bab VIII
Beberapa Hadits yang Diperselisihkan seputar Wudlu, Shalat, Ramadlan dan Amaliah lainnya 99
1. Menyentuh Wanita Bukan Mahram 99
2. Hukum Air Musta'mal dan Air Kurang 2 Qullah 100
3. Kesunnahan Membasuh atau Mengusap Anggota Wudlu 3 Kali-3 Kali dan Mengusap 2 Telinga dengan Air yang Baru 103
4. Batalnya Wudlu Akibat Memegang Dzakar, Kemaluan atau Dubur 104
5. Tidak Boleh Memegang Al-Qur'an Kecuali Suci dan Orang Junub atau Haid Tidak Boleh Membaca Al-Qur'an 106
6. Kesunnahan Doa Setelah Adzan dan Sebelum Iqamat 107
7. Dalil wajibnya al-Fatihah dengan Basmalah dalam Shalat secara keras dan lirih di masing-masing waktunya 108
8. Kesunnahan Qunut Shalat Subuh dan Witir Setelah Bagian Kedua Bulan Ramadhan Ill
9. Dalil Mengangkat Telunjuk Ke Arah Kiblat Saat Tasyahhud dan Tidak Menggerakkannya 114
10. Dalil Bahwa Shalat Wanita Berbeda dengan Laki-Laki 115
11. Dalil Wirid (Dzikir) Setelah Shalat Wajib dengan Suara Keras 116
12. Dalil Wiridan Menggunakan Jari, Kerikil, Batu Kecil atau Tasbih 116
13. Kesunnahan Shalat Sebelum Jum'at dan Sesudahnya, Sebelum Ashar, Maghrib dan Isyak 118
14. Kesunnahan Berjama'ah dalam Tarawih dan Witir di Ramadlan serta Dalil Jumlah Tarawih 20 Rakaat 119
15. Disyariatkannya Mengqadla' Shalat yang Ditinggalkan 123
16. Memulai Ramadlan, Penetapan Awal Syawal dengan Rukyatul Hilal atau Menyempurnakan 30 Hari 126
17. Bolehnya Puasa Sunnah Di Hari dan Bulan Apapun, dan Bukan Bid'ah 127
18. Keutamaan Puasa di Bulan-bulan Mulia (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab), dan Bukan Bid'ah 128
19. Disyariatkannya Memegang Tongkat Bagi Khotib 128
20. Dalil Keutamaan Peringatan Maulid Nabi Saw 130
21. Hadits-Hadits Tentang Haul 131
22. Disyariatkannya Ziarah Kubur 134
23. Wanita Ziarah Kubur 138
24. Dalil Talqin Mayit Setelah Dimakamkan 140
25. Telonan atau Tradisi Masyarakat dalam Mendoakan Janin Sebelum Ditiupkannya Ruh 141
26. Hadits-hadits dan Kaedah yang Harus Diketahui 142

Bab IX
Mukaddimah Qanun Asasi NU 148
1. 40 Hadits Yang Berkaitan Dengan Permulaan Nahdlatul Ulama (Oleh Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari) 169
2. Ringkasan Kitab Risalah Ahlisunnah wal Jama'ah (Karya Hadlratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari) 179
3. Kewajiban Taqlid (Bermadzhab) 183
4. Sampainya Pahala untuk Mayit (Berdasarkan Dalil Al-Qur'an, Hadits dan Pendapat Ulama) 184
- Dalil-dalil dari Al-Qur'an 184
- Dalil-dalil Hadits 186
- Pendapat Para Ulama 190
5. Kesimpulan Pembahasan Tradisi Tahlilan 198
6. Kebangsaan 199
7. Pentingnya Memakmurkan Masjid NU 200

Bab X
Ketentuan yang Berkaitan dengan Akidah 215
1. Sifat-Sifat Dan Nama-Nama Allah 215
2. Mudah Menuduh Kafir 215
3. Pelaku Dosa Besar 217
4. Memahami Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat 223

Daftar Pustaka 226
Profil Penulis 228
Posted on 21.08 / 0 komentar / Read More

Selasa, 08 April 2014

TANYA JAWAB AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

Penulis: Al-Habib Zainal Abidin bin Ibrahim bin Smith al-Alawi al-Husaini
Penerbit: Khalista
Harga: Rp 30.000

Sinopsis:
Buku ini berisi tentang berbagai keyakinan golongan Ahlussunnah wal Jama'ah yang terpenting, ajaran-ajaran yang harus diketahui oleh para santri dan pelajar ilmu agama yang dapat mendorong mereka menuju ke jalan yang lurus dan menyelamatkan mereka dari berbagai jalan yang dilewati oleh orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama, orang-orang yang sesat dan menyesatkan.
Posted on 07.58 / 0 komentar / Read More

Kamis, 03 April 2014

KESAHIHAN DALIL ZIARAH KUBUR MENURUT AL-QUR'AN DAN AL-HADITS

Penulis: KH. M. Hanif Muslih, Lc
Penerbit: Al-Ridha
Harga: Rp 20.000

Sinopsis:

Ziarah kubur pada masa awal Islam, ketika pemeluk Islam masih lemah, masih berbaur dengan amalan jahiliyah yang dikhawatirkan dapat menyebabkan perbuatan syirik, Rasul Allah Saw melarang keras ziarah kubur, akan tetapi setelah Islam mereka menjadi kuat, dapat membedakan mana perbuatan yang dapat mengarah kepada syirik dan mana yang mengarah kepada ibadah karena Allah, Rasul Allah memerintahkan ziarah kubur, karena zairah kubur itu dapat mengingatkan pelakunya untuk selalu teringat mati dan akhirat.

Ziarah kubur oleh sebagian besar masyarakat kita ditradisikan sebagai amalan yang tidak boleh ditinggalkan, kelompok ini gaya amalannya memang unik, banyak mempercayakan hukumnya kepada para Kiai. Pokoknya asa Kiai mengamalkan dan mengerjakan, mereka pun dengan senang hati dan penuh ikhlas mengikuti apa yang mereka amalkan, tanpa banyak bertanya ini dan itu, macam-macam, apalagi sampai bertanya tentang dalil dan dasar hukumnya.

Sementara kelompok yang lain sangat agresif dan selektif sekali dalam melihat hukumnya, sehingga suatu amalan/ajaran kalau dilihat tanpa dalil yang shahih dan cenderung dhaif, dianggapnya amalan itu sebagai bid'ah, sekalipun dulu pernah diamalkan dan dikerjakan oleh para ulama salaf, bahkan oleh para sahabat Rasulullah Saw. Saking agresif dan selektifnya sampai-sampai ziarah kubur yang jelas-jelas diperintahkan Rasulullah Saw dilarang dan haram dikerjakan.

Buku ini akan membantu para pembaca untuk menemukan jawaban bagaimana sebenarnya hukum masalah tersebut, menurut pendapat ulama salaf, dan ulama masa kini.
Posted on 14.28 / 0 komentar / Read More

Rabu, 02 April 2014

ASWAJA AN-NAHDLIYAH

Penulis: Tim PW NU Jatim
Penerbit: Khalista
Harga: Rp 10.000

Sinopsis:
Buku ini berisi 9 bab: Mukadimah, membahas sumber ajaran aswaja an-nahdliyah, aqidah aswaja an-nahdliyah, syari’ah aswaja an-nahdliyah, mengenai tasawuf aswaja an-nahdliyah, mengulas tradisi dan budaya, kemasyarakatan, masalah kebangsaan dan kenegaraan, dan Khatimah (penutup).
Posted on 08.25 / 0 komentar / Read More

Selasa, 01 April 2014

TERJEMAH SAFINATUN NAJA

Penulis: Salim bin Sameer Al Hadhrami
Penerbit: Al Miftah
Harga: Rp 15.000

Sinopsis:
Merupakan suatu hal yang wajar bila dari kalangan kaum Muslimin banyak yang berminat mempelajari kitab Safinatun Naja. Bukan saja karena keistimewaan penyusunnya, yaitu Salim bin Smeer Al Hadhrami, namun juga karena kitab tersebut memang benar-benar dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk mengetahui hukum-hukum Islam.
Posted on 20.32 / 0 komentar / Read More

ILMU TAUHID

Terjemah Kitab Aqidatul 'Awam

Penulis: Sayid Ahmad Al Marzuki
Penerbit: Al-Miftah
Harga: Rp 15.000

Sinopsis:
Perlu diketahui, bahwa kitab Aqidatul Awam itu diajarkan hampir di tiap-tiap madrasah dan pondok-pondok Pesantren di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa buku ini baik sekali untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan harapan agar buku ini lebih luas jangkauannya. Terutama sekali bagi generasi muda Muslim yang belum bisa berbahasa Arab.
Posted on 20.25 / 0 komentar / Read More
 
Copyright © 2011 . Toko Buku ASWAJA . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates